16 Maret 2013, Kelas Berbagi #1: Kongkow Komunitas

Categories: Liputan

Rumah Kemuning, 16 Maret 2013

Difasilitasi oleh Komunitas Berbagi Q3 (kyutri.com), kongkow ini diniatkan menjadi langkah kecil awal menguatkan gerakan komunitas yang dimotori kaum muda yang kami yakini, sebagai motor utama perubahan masa depan Indonesia. Di sore itu kongkow ini dihadiri Komunitas HISTORIA, Sanggar Kayu, Pamflet, Teen Go Green, Green Camp, Jakarta Green Monster, MAPASK (STIMA KOSGORO).

Suhud Ridwan dari Komunitas Berbagi Q3 membuka singkat acara. Ia sampaikan tujuan Komunitas Berbagi Q3, yang mencoba menjembatani berbagi pengalaman dan pengetahuan antar individu atau kelompok. Menurutnya, pengetahuan dan pengalaman sebaiknya tidak terkurung atau hilang oleh pembawanya, karena itu perlu diwariskan, perlu dibagikan. Sejak berdiri pada 27 juli 2012, Q3 telah 14 kali melakukan kelas berbagi.

Danu melanjutkan perkenalan dengan menceritakan Komunitas Historia Indonesia, disambung oleh sang penggagas, Asep Hambali. KHI berdiri pada tahun 2003 atas dasar keprihatinan melihat keacuhan generasi muda pada sejarah bangsa, padahal, pemahaman dan penghargaan atas sejarah sendiri menentukan kemajuan bangsa. Kecsintaan kita pada Indonesia semestinya ditunjukkan pula atas penghargaan kita pada sejarah pula, dengan begitu menurutnya, sejarah menjadi pemersatu.

KHI banyak melakukan kegiatan kunjungan pada situs-situs sejarah, secara berkelompok. KHI juga mengembangkan pemanduan wisata sejarah, yang menjadi ajang kaum muda pula berkreasi. Saat ini, sudah lebih 20 ribu orang tergabung dalam KHI, dengan cabang hingga di Singapura, Malaysia, dan Belanda.

Sedangkan Bang Ardy mengenalkan Komunitas Sanggar Kayu. Jangan terjebak mengira sanggar yang berdiri tahun 2008 ini mengurusi kayu, karena Kayu singkatan dari Kampung Melayu. Sanggar ini wujud niat Andri untuk berbakti kepada kampung halaman dengan memberdayakan adik-adik di wilayahnya melalui music, teater, dan kegiatan positif yang lain. Dan walaupun telah banyak unjuk gigi dan bekerja sama dengan beragam organisasi, saat ini mereka perlu segera menjawab tantangan sederhana,  menemukan rumah baru untuk sekretariat. Perjuangan memang penuh dinamika.

Dari Kebon Baru, hadir Banu mewakili Komunitas Pengelola Sampah Kebun Baru, yang kemunculannnya diasistensi Jakarta Green Monster lewat Program 3R. Komunitas ini mencoba mendistribusikan nilai ekonomis sampah kepada masyarakat. Pada akhir 2012, bersama Dinas Kebersihan DKI, mereka membentuk FORMALISA yaitu Forum Masyarakat Peduli Sampah, yang terus mencoba terwujudnya konsep sederhana bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari level paling rendah yaitu rumah tangga. Yang kita tahu, meski sederhana, tak mudah untuk merealisasikan konsep ini, diperlukan ketekunan dan energi lebih.

Dilanjutkan oleh Icha dari Teens Go yang diinisiasi pada tahun 2008 oleh Taman Impian Jaya Ancol, Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Yayasan KEHATI. Saat ini TGG fokus di wilayah pesisir Jakarta untuk kampanye “Say No to Styrofoam”.

Sambil menikmati kue ala kadarnya, meskipun berbincang-bincang santai, kongkow ini menyentuh pada topik-topik esensial. Tentang rendahnya kecintaan dan percaya diri kita sebagai bangsa, yang kemudian menggiring kita tidak memiliki arah untuk menyelesaikan persoalan. Sistem saat ini belum bergerak untuk membangkitkan dan menjaga dua hal penting itu, kecintaan dan kepercayaan diri. Sistem baru menyediakan layanan-layanan teknis. Untuk itu, diperlukan generasi muda abnormal yang memiliki semangat besar untuk menggeser, menembus, atau merobohkan sekat-sekat yang terbangun, baik sekat mental, sekat pemikiran, ataupun sekat perilaku. Semua yang hadir juga lalu menyepakati, bahwa kaum-kaum muda abnormal itu bisa saja ditemukan di komunitas, ataupun institusi pendidikan formal.

Satu hal lagi yang ditawarkan, apakah forum ini berani mendeklarasikan semacam sumpah pemuda untuk mengikat semangat? Setidaknya untuk bisa menguatkan semangat yang hadir.

Icay dan Galih yang terhalang hadir sejak awal lalu mengenalkan organisasi masing-masing yaitu Mahasiswa Pecinta Alam STIMA Kosgoro (MAPASK) dan Green Camp. Saat ini mereka sedang mendirikan mendirikan posko bersama di daerah Kampung Melayu tepatnya di Kampung Pulo, mulai dari evakuasi warga hingga mendistribusikan bantuan ke barak pengungsian. Selain itu Green Camp yang dimotori Icay memfokuskan diri mendampingi masyarakat untuk mengelola sampah.

Oleh mbak Molly, FAMPLET menjadi penutup perkenalan. Organisasi ini mencoba untuk memfasiltiasi berbagai lebih 30 organisasi atau kaum muda di Indonesia. Bahkan mereka juga sedang membuat film untuk isu HIV Aids bekerjasama dengan HIVOS.

Deklarasi yang dilontarkan akhirnya disepakati pada akhir sesi, bukan dalam bentuk piagam tetapi kegiatan lanjutan bersama. Yang pertama adalah Q3 akan melaksanakan diskusi mengenai Kekuatan Niat. Tema ini dipilih setelah melihat para penggagas yang hadir di kongkow ini bukanlah pribadi penuh sumber dana, dan hanya bermodal niat untuk bergerak. Tema ini dirasakan perlu disebarkan pada kaum muda, mengamati banyak kaum muda berhenti sebelum melangkah hanya karena merasa tak punya dana.

Dan “Wisata Sejarah Ciliwung” disepakati sebagai agenda kedua. Alur umum kegiatan, peserta akan menyusuri Ciliwung sambil memulung sampah, lalu diperkaya dengan sesi dongeng dan cerita sejarah ciliwung di Kampung Pulo. Usulan lain yang juga coba akan dijawab yaitu membangun peta banjir DKI Jakarta.

Semoga kongkow santai sore itu, menambah lebar langkah kita, baik sebagai pribadi, organisasi, komunitas, maupun secara bersama. (Suhud)

 

Tinggalkan Balasan