31 Oktober 2014, Kopdar: PSAK 24 mengenai Imbalan Kerja

Categories: Liputan

Pada Jumat 31 Oktober 2014, diadakan Kopi Darat Komunitas Keuangan LSM. Diadakan kembali di Wisma PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) tempat di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Diskusi dibuka oleh Ikhwanul Huda sebagai Moderator dan yang menjadi Narasumber kopdar kali ini adalah Tri Purwanto. Pria kelahiran Sragen ini adalah lulusan D3 Akuntansi di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan S1 Manajemen di Universitas Indonesia (UI). Selain mengajar, Mas Tri, panggilan akrabnya, kerap menjadi konsultan keuangan (akuntansi, pajak, dan lain-lain) juga menekuni bidang audit. Hal tersebut menjadikannya semakin mahir dalam bidang akuntansi dan pajak serta audit. Tri Purwanto ini juga sebagai narasumber pelatihan pengelolaan keuangan di Yayasan Penabulu.

Kopdar dihadiri dari beberapa lembaga lainnya seperti YAPPIKA, Dompet Dhuafa, YBIE, Cita Sehat Foundation, Yayasan Penabulu dan tentunya juga beberapa staf dari Lembaga PKBI, sebagai tuan rumah.

Berikut adalah peserta lembaga yang hadir dalam Kopdar KeuanganLSM:

  1. Evi Aisah T, YBIE
  2. Istikomah, PKBI
  3. Arwita, PKBI
  4. Christina Rety, Yappika
  5. Dedi Muhtadi, Yappika
  6. Hadi Prayitno, PKBI
  7. Nanang Munajat, PKBI
  8. Dewi Anyris, PKBI
  9. Titik Maryani, Dompet Dhuafa
  10. Dyah Suryati, Dompet Dhuafa
  11. Dewi Puspitasari, Cita Sehat Foundation
  12. Ikhwanul Huda, Penabulu Alliance
  13. Sri Ngastuti Hartasih, Penabulu Alliance
  14. Endra Yusuf, Penabulu Alliance
  15. Novita Apriyani, Penabulu Alliance
  16. Agus Widodo, Penabulu Alliance
  17. Jefry Adhipradana, Penabulu Alliance

Selanjutnya sedikit kata sambutan dari Bapak Nanang sebagai tuan rumah di Wisma PKBI yaitu beliau mengucapkan banyak terimakasih karena teman-teman lembaga semua menyempatkan waktunya untuk menghadiri acara Kopdar PSAK 24.

KOPDAR diawali dengan perkenalan. Banyak diantara teman-teman lembaga lain yang merupakan “wajah” baru dalam KOPDAR kali ini. Selanjutnya diskusi dibuka oleh Tri Purwanto dengan judul “PSAK 24 mengenai Imbalan Kerja”.

Diskusi dibuka oleh Tri Purwanto, sekaligus sebagai Pengisi Diskusi. Mas Tri menjelaskan pengertian PSAK 24 mengenai Imbalan kerja yaitu Imbalan Kerja atau yang disebut (employee benefits) adalah seluruh bentuk imbalan yang diberikan suatu entitas (organisasi) dalam pertukaran atas jasa yang diberikan oleh pekerja atau untuk pemutusan kontrak kerja. Siapa saja yang merupakan subjek UU No.13 Tahun 2003? Berdasarkan UU No.13 Tahun 2003 pasal 1, pengusaha adalah perorangan, persekutuan baik fa maupun CV, badan hukum yang berdiri sendiri seperti, yayasan, koperasi, PT dan organisasi nirlaba, baik LSM maupun organisasi yang dibentuk pemerintah, Badan Usaha Milik Negara. Tujuan PSAK 24 yaitu Mengatur akuntansi dan pengungkapan imbalan kerja.

Mas Tri juga menyampaikan bahwa PSAK 24 mengenai Imbalan Kerja juga mempunyai persyaratan, yaitu mensyaratkan entitas untuk mengakui:

  1. Liabilitas: jika pekerja telah memberikan jasa dan berhak menerima imbalan di masa depan.
  2. Beban: jika entitas menikmati manfaat ekonomik yang dihasilkan dari jasa yang diberikan oleh pekerja yang berhak memperoleh imbalan kerja.

Ketentuan PSAK 24 mengenai Imbalan Kerja; biasanya untuk pegawai hanya sampai 3 tahun kontrak dan selanjutnya menjadi pegawai tetap. Tapi biasanya di LSM atau NGO menengah kebawah akan selalu jadi pegawai kontrak.

Setelah diskusi pertama selesai dipersilahkan untuk teman-teman lain memberikan pertanyaan atau memberikan pengalamannya tentang Imbalan Kerja didunia LSM/NGO, apakah sudah ada yang menerapkan atau masih menunggu karena hal lainnya yang masih terdengar rancu.

Banyak pertanyaan menarik yang diajukan peserta diskusi, contohnya pertanyaan dari Hadi Prayitno, Ia bertanya, “Apakah benar ada klausul batasan minimal berapa karyawan yang ada di dalam lembaga tersebut sehingga kewajiban ini berlaku dan tidak dan di batas berapa orang karyawan yang dikenakan kewajiban mengikuti UU 13?”. Pertanyaan ini coba dijawab oleh Nanang Munajat, Ia menjawab, “10 dan atau 10 juta, jadi kalau kita mempunyai staff 2 orang dan digaji 5 juta per orang, sudah kena itu pak, itu sudah aturan perpajakan, waktu itu saya tanyakan ke dinas pekerjaan”. Lalu ada pertanyaan apakah ada konsekuensi jika organisasi tidak menerapkan PSAK 24, Tri menjawab, “Saya belum tahu sanksinya sejauh apa, tapi pada saat ada yang tidak terpenuhi di PSAK 24 nanti di laporan keuangan penjelasannya adalah organisasi ini belum menerapkan PSAK 24, yang belum diterapkan yang mana, artinya nanti laporan keuangan bisa dibaca oleh stakeholder, pimpinan dan siapapun”.

Dari diskusi ini diketahui bahwa tiap-tiap organisasi mempunyai kebijakan yang berbeda, contohnya Christina Rety, Ia berkata, “Kita tidak membedakan karyawan tetap atau kontrak ya, jadi begitu masuk 6 bulan, itu tiap bulan disisihkan gaji, kita tabungkan ke bank, kita buatkan rekening pribadi karyawan tersebut, begitu kita riset, saat dikembalikan ke kita dalam bentuk pesangon”. Lalu Dewi mengaku, “Dalam proses rekrutmen, kalau di PKBI kita semua transparan pada saat mereka direkrut di kita, kita menjelaskan aturan-aturan yang ada di PKBI, aturan yang terkait dengan UU atau kebijakan-kebijakan kita, jadi clear di depan. Pada saat mereka mau sign contract mereka harus melihat draft kontrak dulu sesuai dengan aturan-aturan kita yang ada, di PKBI tidak ada staff project atau staff reguler,” sambungnya.

Mas Tri menambahi bahwa masalah PHK atau pensiun di LSM atau NGO tidak pernah ada yang namanya pesangon pada dipecat ataupun pensiun, tetapi ada salah satu lembaga yang membuatkan sebuah rekening pribadi yang diambil dari gaji bulanan agar menjadi pesangon pada saat pegawai atau karyawan pensiun atau dipecat. Tapi itu berlaku hanya untuk karyawan yang minimal telah mengabdi di perusahaan tersebut selama 6 bulan.

Semoga KOPDAR kali ini, membawa manfaat dan pengetahuan bagi lembaga masing-masing. Suasana terlihat interaktif oleh diskusi yang dihantarkan olehnya.

Hidangan berupa kue dan makanan ringan lainnya sudah tersedia untuk disantap sambil ngobrol-ngobrol ringan, diselingi canda tawa yang menambah kehangatan di Wisma PKBI.

Terimakasih buat teman-teman yang menyempatkan diri hadir dalam kegiatan ini. Semoga bermanfaat dan sampai ketemu di kegiatan Kopdar berikutnya. Untuk mengunduh album kegiatan kopdar dapat diunduh disini dan untuk materi lengkapnya “UU No. 13 dan PSAK 24″ yang disampai oleh Tri Purwanto dapat dilihat disini.

 

Tinggalkan Balasan