Bagaimana Menyusun Logical Framework Analysis?

Categories: Materi

Bagaimana Menyusun Logical Framework Analysis?

LFA Pertama kali diperkenalkan oleh Leon J. Rosenberg dan digunakan sejak tahun 1969 oleh USAID. sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Logical_framework_approach. Logical Framework atau disingkat logframe kemudian digunakan oleh organisasi-organisasi lainnya seperti CIDA,DFID, UNDP dan organisasi LSM di seluruh dunia. Logframe digunakan secara luas karena mengharuskan berpikir terorganisir, dapat menghubungkan kegiatan-investasi-hasil, dapat digunakan untuk menetapkan indikator kinerja dan pengalokasikan tanggung jawab, dapat digunakan  sebagai sarana  untuk berkomunikasi dengan tepat dan jelas, dapat juga digunakan untuk menyesuaikan dengan keadaan yang tiba-tiba berubah dan dapat memperhitungkan resiko. LFA disebut sebagai alat untuk perencanaan, monitoring dan evaluasi  dari sebuah program meskipun LFA dibuat saat perencanaan namun ketiganya terintegrasi menjadi satu kesatuan dalam LFA. Prasyarat dari LFA yaitu membutuhkan pengetahuan dan informasi yang cukup untuk mampu digunakan sebagai alat perencanaan program atau project. 

Ada beberapa pokok dalam karakteristik LFA yaitu:

  1.  Berangkat dari akar masalah untuk menentukan tujuan.
  2. Berorientasi pada tujuan dan penerima manfaat oleh sebabnya LFA disebut sebagai management berbasis hasil yang bertujuan terhadap hasil yang diharapkan.
  3. Partisipatif, karena dokumen yang dihasilkan itu sebagai bentuk kepemilikan bersama. Syarat dari partisipatif yaitu sepahaman dan sepakatan jika tidak ada kesepahaman berarti tidak sepakat ataupun sebaliknya,dan jika tidak sepaham dan sepakat maka tidak partisipatif dan bukan disebut LF.
  4. Logis dan sistematis, karena LFA atau Approach adalah pendekatan kerangka logis jadi harus masuk akal.

Karakteristik LFA_edit

Beberapa langkah secara analogis dalam LFA diantaranya:

1. Melakukan analisa konteks saat program akan dibuat yang didapat dengan banyak cara salah satunya SWOT analisis yang sangat umum dan untuk memetakan kekuatan dan kelemahan baik internal maupun eksternal.

Swot Analysis_edit

2. Analisa stakeholder yang paling penting adalah kita harus mencari dan analisis siapa penerima manfaat dari output dan outcomenya, mengadress pelaksananya serta mengetahui dan mengenali tingkatan dari pengambil keputusan dan pembuat kebijakan.

 Analysis Stakeholder_edit

3. Analisa situasi atau analisa masalah berdasarkan pohon masalah (negatif) yang disandingkan dengan pohon tujuan (positif), PR dalam pembuatan pohon masalah apa yang menjadi negatif harus menjadi positif.

Pohon masalah_edit

4. Analisa tujuan.

5. Rencana  kegiatan.

6. Perencanaan sumber daya.

7. Indikator.

8. Analisa resiko dan analisa asumsi. Setiap level harus ada resiko dan mediasinya, sederhananya menggunakan analisis asumsi jika–maka-dan jika-maka. Dan setiap membuat sesuatu harus menggunakan sistem checking dan balancing. LFA harus tertulis oleh sebab itu hasil dari LFA harus menjadi dokumen.

 Analisis risiko_edit

 

Logical Framework analysis Sebagai alat Evaluasi

Logical Framework Analysis Sebagai Alat Evaluasi

Logical Framework Analysis (LFA) adalah instrumen analisis, presentasi dan manajemen yang dapat membantu perencana untuk menganalisis situasi eksisting, membangun hirarki logika dari tujuan yang akan dicapai, mengidentifikasi resiko potensial yang dihadapi dalam pencapaian tujuan dann hasil, membangun cara untuk melakukan monitoring dan evaluasi terhadap tujuan (output) dan hasil (outcomes), menyajikan ringkasan aktivitas suatu kegiatan serta membantu upaya monitoring selama pelaksanaan implementasi proyek (Ausguidline, 2005).

Selama ini pemanfaatan Logical Framework Analysis masih terbatas bertujuan untuk melakukan proses perencanaan proyek yang bersifat partisipatoris dan berorientasi tujuan. Teknik ini memerlukan keterlibatan seluruh stakeholder terkait dalam suatu rencana/ program untuk menentukan prioritas dan rencana implementasi. Padahal LFA merupakan alat bantu analisis dan manajemen yang dapat menjelaskan analisis situasi yang menjadi alasan atau argumentasi penting suatu program, kaitan logis sebab-akibat secara hirarki hubungan antara tujuan yang akan dicapai dengan proses yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan, identifikasi potensi-potensi resiko yang akan dihadapi dalam pelaksanaan program, mekanisme bagaimana hasil-hasil kerja (output) dan dampak program (outcome) akan dimonitor dan dievaluasi dan penyajian ringkasan program dalam suatu format standard.

LFA digunakan ketika melakukan identifikasi dan penjajagan dalam penyusunan proposal, menyiapkan disain proyek/program dalam suatu sistematika dan kaitan yang masuk akal, penilaian disain proyek/program, memutuskan persetujuan untuk pelaksanaan proyek/program, monitoring dan evaluasi kemajuan (progress) dan kinerja (performance) program.

LFA juga dapat digunakan sebagai petunjuk teknis dalam pengelolaan program,  atau tepatnya kemampuan tehnis, bahwa yang bersangkutan mempunyai kemampuan tehnis  dalam menyelenggarakan suatu program. Logical Framework sebagai kemampuan tehnis program karena  dapat digunakan  sebagai alat untuk Perencanaan, Penilaian, Monitoring dan Evaluasi dari kegiatan-kegiatan dalam program yang telah dibuat.

Kerangka logika  sebagai teknis dalam  mengkombinasikan Logika Vertikal maupun Logika Horisontal. Tujuan yang ditetapkan  dapat diukur dengan indikator melalui informasi yang dikumpulkan dan disajikan dalam alat verifikasi khusus.

Dalam pelaksanaannnya Logframe  disusun dalam bentuk Matrix  atau biasa disebut dengan logframe matrix yang terdiri atau mempunyai 4 elemen dasar  yaitu

  • Hubungan antara Goals, Objectives, Outputs dan Activities
  • Logika Vertikal dan Logika Horisontal
  • Indikator
  • Asumsi dan resiko yang perlu diindetifikasi pada tahap penyusunan program

Goals  dalam kerangka logis (logframe) adalah tingkatan dengan tujuan tertinggi, merupakan hasil akhir tetapi  diluar control program. Objectives atau sasaran program  merupakan Rincian/Bagian dari Goal, namun objectives atau sasaran ini selalunya diluar kontrol program. Goal dan Objectives diluar kontrol program karena kegiatan-kegiatan tidak langsung mempengaruhinya tetapi dapat dicapai dengan gabungan beberapa dari program yang satu dengan program yang lainnya.  Sedangkan Outputs itu sendiri adalah hasil spesifik apa yang harus diperoleh sesudah program berakhir  dan Aktivities adalah Kegiatan-kegiatan apa yang harus disusun untuk memperoleh outputs.

Dalam matriks logframe kita juga dapatkan istilah Objectively Verifiable Indicators atau disingkat OVI yaitu  atau dalam bahasa Indonesia disebut indikator verifikasi sasaran tujuan, mengarahkan kita untuk bagaimana kita tahu bahwa program itu berhasil, membantu kita untuk klarifikasi, membantu kegiatan monitoring dan evaluasi  dan penggunaannya   atau indikatornya dibuat dengan pendekatan SMART (Specific, Measurable, Attainable, Realibility and Timely).

Kolom lainnya dalam matrik kerangka logis adalah Means of Verification atau disingkat (MOV)  atau dalam bahasa Indonesia disebut dengana cara verifikasi yaitu  Data-data yang bisa menunjang, sejauh mana data yang dikumpulkan tersebut bermanfaat. Contoh hasil penelitian,  Data SDKI, Sensus dan lain-lain. Dan terakhir adalah kolom Risk and Assumptions (resiko dan asumsi). Ditulis berbagai kemungkinan yang terjadi yang dapat mempengaruhi berhasil atau gagalnya suatu proyek atau program.

Kesimpulannya

Secara umum penggunaan LFA masih terbatas bertujuan untuk penyusunan suatu proyek, padahal LFA dapat dimanfaatkan dalam proses evaluasi. Pemahaman yang lebih terhadap LFA dibutuhkan dalam upaya pemanfaatan LFA secara maksimal dan tidak hanya terpaku pada penyusunan suatu proyek. Pendekatan SMART yang dimiliki LFA merupakan pendukung kegiatan monitoring dan evaluasi serta untuk menemukan indikator keberhasilan dari suatu program.

Sumber: Kompasiana

http://regional.kompasiana.com/2011/06/20/logical-framework-analysis-sebagai-alat-evaluasi-374244.html

Pentingnya Logical framework –Kerangka Kerja Logis – Dalam Penyelenggaraan Program

Pentingnya Logical framework –Kerangka Kerja Logis – Dalam Penyelenggaraan Program

Polewali Mandar Sulawesi Barat.-Logical Framework dan selanjutnya disingkat logframe adalah Istilah yang sulit sekali difahami oleh kebanyakan orang, apalagi mereka yang tingkat pengetahuannya biasa-biasa saja. Saya sendiri awalnya juga kurang memahami dengan jelas, tetapi dengan keseringan terlibat dalam pelaksanaan beberapa program—khususnya program pembangunan kesehatan—terutama yang berhubungan dengan tahapan perencanaan, yang dimulai dari pengumpulan data, analisis data, identifikasi masalah, menentukan masalah sampai kemudian menetapkan masalah sebagai tujuan.  Sering terjadi, Para pembuat program biasanya langsung masuk kedalam tahap manajemen berikutnya yaitu pengorganisasian, pelaksanaan dan kemudian tahapan-tahapan selanjutnya. Ini adalah tindakan yang fatal. Saya baru mengerti, rupanya sebelum masuk pada tahap pengorganisasian, tahap terakhir perencanaan adalah membuat logframenya, yang kalau di Indonesiakan disebut sebagai kerangka logis. Dikatakan demikian (kerangka logis), karena semua tahap perencanaan ini dibuat secara logis, mempunyai kerangka, dari satu tahap ketahap yang lain, dan yang sangat menarik dari logframe ini adalah dengan menggunakan indikator yang jelas, terukur dan spesifik. Intinya Logframe adalah suatu pendekatan perencanaan program yang disusun secara logis dengan menggunakan indikator yang jelas.

LFA_1Logframe atau biasa juga diistilahkan dengan logical framework atau di Indonesiakan kerangka kerja logis, dikatakan demikian, karena kerangka ini yang akan dipakai dalam pengorganisasian program bahkan tahap-tahap berikutnya dalam manajemen program yaitu pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program, dikatakan dipakai untuk pengorganisasian karena orang-orang yang terlibat dalam program dengan kerangka ini akan selalu : berpikir terorganisir, dapat menghubungkan kegiatan-investasi-hasil, dapat digunakan untuk menetapkan indikator kinerja dan pengalokasikan tanggung jawab, dapat digunakan  sebagai sarana  untuk berkomunikasi dengan tepat dan jelas, dapat juga digunakan untuk menyesuaikan dengan keadaan yang tiba-tiba berubah dan dengan kerangka logis ini pemegang program dapat memperhitungkan resiko-kemungkinan kesalahan dari perencanaan yang telah dibuat dengan baik dan benar. Jadi sangatlah sempurna digunakan sebagai metode dalam menyelenggarakan suatu program, karena didalamnya terdapat pembahasan-pembahasan berupa:

  • Analisa dan Pokok masalah, dengan hasil akhir diurut berdasarkan skala prioritas.
  • Formulasi Tujuan (terukur, jelas dan spesifik)
  • Analisa Strategi (cara-cara praktis yang dapat digunakan untuk mencapai goal)
  • Analisa Stakeholder (orang-orang yang berkepentingan: penentu kebjakan, pelaksana dan penerima dampak)
  • Analisa Risk dan Asumsi (memperhitungkan kegagalan dan keberhasilan)
  • Matrix Logframe ( Tabel Kerangka Kerja Logis)

LFA_2Kerangka logis juga sangatlah menarik, karena dapat digunakan sebagai petunjuk tehnis dalam pengelolaan program, atau tepatnya kemampuan tehnis, bahwa yang bersangkutan mempunyai kemampuan tehnis  dalam menyelenggarakan suatu program. Logical Framework sebagai kemampuan tehnis program karena  dapat digunakan  sebagai alat untuk Perencanaan, Penilaian, Monitoring dan Evaluasi dari kegiatan-kegiatan dalam program yang telah dibuat. Kerangka logika  sebagai tehnis dalam mengkombinasikan Logika Vertikal maupun Logika Horisontal. Tujuan yang ditetapkan  dapat diukur dengan indikator melalui informasi yang dikumpulkan dan disajikan dalam alat verifikasi khusus.

Dalam pelaksanaannnya Logframe  disusun dalam bentuk Matrix  atau biasa disebut dengan logframe matrix yang terdiri atau mempunyai 4 elemen dasar yaitu:

  1. Hubungan antara Goals, Objectives, Outputs dan Activities
  2. Logika Vertikal dan Logika Horisontal
  3. Indikator
  4. Asumsi dan resiko yang perlu diindetifikasi pada tahap penyusunan program

Goals  dalam kerangka logis (logframe) adalah tingkatan dengan tujuan tertinggi, merupakan hasil akhir tetapi  diluar control program. Objectives atau sasaran program  merupakan Rincian/Bagian dari Goal, Bagaimana kita mencapai LFA_3Goal?, namun objectives  atau sasaran ini selalunya diluar kontrol program. Goal dan Objectives diluar kontrol program karena kegiatan-kegiatan tidak langsung mempengaruhinya tetapi dapat dicapai dengan gabungan beberapa dari program yang yang satu dengan program yang lainnya. Sedangkan Outputs itu sendiri adalah Hasil spesifik apa yang harus diperoleh sesudah program berakhir?  dan Aktivities adalah Kegiatan-kegiatan apa yang harus disusun untuk memperoleh outputs?

Dalam matriks logframesilahkan download matrix disinikita juga dapatkan istilah Objectively Verifiable Indicators atau disingkat OVI yaitu  atau dalam bahasa Indonesia disebut indicator verifikasi sasaran tujuan, mengarahkan kita untuk bagaimana kita tahu bahwa program itu berhasil, membantu kita untuk klarifikasi, membantu kegiatan monitoring dan evaluasi  dan penggunaannya atau indikatornya dibuat dengan pendekatann SMART (specific, Measurable, Attainable, Realibility and Timely)

Kolom lainnya dalam matrik kerangka logis adalah Means of Verification atau disingkat (MOV) atau dalam bahasa Indonesia disebut dengana cara verifikasi yaitu  Data-data yang bisa menunjang, sejauh mana data yang dikumpulkan tersebut bermanfaat. Contoh Hasil penelitian, Data SDKI, Sensus dan lain-lain. Dan terakhir adalah kolom Risk and Assumptions (resiko dan asumsi). Ditulis berbagai kemungkinan yang terjadi yang dapat mempengaruhi berhasil atau gagalnya suatu proyek atau program. Dinyatakan dalam kalimat positif.

Kesimpulannya logical framework atau kerangka kerja logis dalam penyelenggaraan program pembangunan, semisal pembangunan kesehatan yang dibuat, menunjukkan bahwa seseorang (penyelenggara program) mempunyai metode yang jelas dalam mengelola program, yang bersangkutan juga mempunyai kemampuan tehnis dalam pengertian kemampuan tehnis manajemen program, bukan saja mengetahui teori manajemen tetapi dapat mengaplikasikannya secara tehnis. Disamping itu juga yang bersangkutan mempunyai konsep yang jelas dalam melaksanakan tahap-tahap pencapaian tujuan dari yang akan dilaksanakan. Kegagalan yang sering ditemukan dalam penyelanggaraan program karena  seseorang  atau penanggung jawab program-Penanggung Jawab Operasional  Kegiatan (PJOK)-tidak memahami dengan baik dan benar bahkan tidak turut terlibat dalam penyusunannya tentang kerangka kerja logis logical Framework. Begitulah pentingnya Logical Framework dalam  penyelenggaraan program pembangunan. Semoga bermanfaat.

Sumber:http://arali2008.wordpress.com/2010/05/19/pentingnya-logical-framework-%E2%80%93kerangka-kerja-logis-%E2%80%93-dalam-penyelenggaraan-program/

Penyusunan Kerangka Kerja logis (LFA) Langkah 8-11

Penyusunan Kerangka Kerja Logis (LFA) Langkah 8-11

Didalam MOV – alat verifikasi- anda menguraikan tentang sumber-sumber informasi yang akan menunjukkan tentang apa yang sudah diselesaikan. Jika sasaran anda adalah “Pendapatan para petani ditingkatkan X % , dari mana anda akan mendapatkan informasi untuk membuktikan bahwa hal ini sudah terjadi? Jika anda memutuskan bahwa perlu diadakan suatu studi, maka anda boleh menambahkan beberapa langkah tindakan kepada Daftar Aktivitas. Jika studi ini memerlukan biaya, anda harus menambahkannya pada anggaran.

Ketentuannya ialah bahwa indikator-indikator yang anda pilih untuk mengukur sasaran-sasaran anda harus dapat diuji dengan beberapa alat. Jika tidak, maka anda harus mencari indikator yang lain.

Sebuah indikator hanya dapat digunakan dan hanya berguna jika informasi dapat dikumpulkan pada saat dibutuhkan dan dengan biaya dan usaha yang pantas. Jadi pada saat menetapkan setiap indikator, perlu pula mempertimbangkan bagaimana data akan dikumpulkan. Jika verifikasi tidak mungkin dilakukan atau jika biayanya terlalu mahal, maka dibutuhkan indikator lain yang lebih murah dan/atau lebih mudah diverifikasi.

Tentukan alat verifikasi yang menguraikan:

  • data yang dibutuhkan
  • sumber data (sekunder) atau metode pengumpulan data (primer)
  • siapa yang akan mengumpulkan dan mencatat datafrekwensi dan tanggal pengumpulan data.

Langkah 9: Mempersiapkan Anggaran Pelaksanaan

Anda sudah melihat bahwa OVI-OVI pada jenjang Kegiatan / Aktivitas pada umumnya adalah Input-input atau Anggaran. Sekarang anda perlu mempersiapkan keseluruhan Anggaran Pelaksanaan. Kaitkan biaya-biaya secara langsung dengan kegiatan-kegiatan. Anda mungkin perlu menggunakan suatu set kategori standar untuk memenuhi persyaratan-persyaratan dari perwakilan dengan mereka anda bekerja.

Anggaran Pelaksanaan tidak membentuk bagian dari LogFrame, tetapi adalah merupakan sebuah dokumen yang sangat penting yang menjadi lampiran dari LogFrame. Perhatikan bahwa persyaratan-persyaratan biaya yang diuraikan didalam Anggaran Pelaksanaan akan digunakan untuk menganalisis efektifitas biaya proyek dengan memperbandingkan anggaran dengan OVI-OVI pada level Maksud.

Langkah 10: Periksa LogFrame Dengan Menggunakan Daftar Periksa Rancangan Proyek

Bekerja dengan menggunakan Daftar periksa Rancangan Proyek adalah suatu bantuan guna memastikan bahwa proyek anda memenuhi seluruh persyaratan dari sebuah LogFrame yang dirancang dengan baik. Mungkin bisa membantu bila anda mencetak LogFrame-nya sebelum diadakannya peninjauan kembali terhadap proyek tersebut dengan menggunakan daftar periksa.

Langkah 11: Meninjau Ulang Rancangan LogFrame Berdasarkan Pengalaman Masa Lalu

Anda seharusnya sudah memikirkan tentang pengalaman anda sebelumnya dengan proyek-proyek selama masa persiapan pembuatan LogFrame. Sekarang tiba saatnya untuk melakukan pemeriksaan terakhir atas hal ini.

Daftar Periksa Rancangan Proyek

  1. Proyek mempunyai satu maksud.
  2. Maksud bukanlah merupakan formulasi ulang dari output-output.
  3. Maksud diluar tanggungjawab pengelolaan oleh tim proyek.
  4. Maksud dinyatakan dengan jelas.
  5. Semua output diperlukan untuk mencapai maksud.
  6. Semua output dinyatakan dengan jelas.
  7. Semua output dinyatakan sebagai hasil-hasil.
  8. Semua aktivitas menjelaskan strategi tindakan guna mencapai setiap output.
  9. Tujuan dinyatakan dengan jelas.
  10. Hubungan jika/maka (if/then) antara maksud dan tujuan berdasarkan logika dan tidak kehilangan langkah-langkah penting.
  11. Asumsi-asumsi pada level aktivitas tidak mencakup kondisi-kondisi yang ada sebelumnya. (Semuanya ini dibuatkan daftar tersendiri).
  12. Output-output ditambah dengan asumsi-asumsi pada level itu menciptakan kondisi-kondisi yang perlu dan cukup untuk mencapai maksud.
  13. Maksud ditambah dengan asumsi-asumsi pada level itu menguraikan kondisi-kondisi kritis guna mencapai tujuan.
  14. Hubungan antara input-input/sumberdaya-sumberdaya dan aktivitas-aktivitas itu realistis.
  15. Hubungan antara aktivitas-aktivitas dan output-output itu realistis.
  16. Hubungan antara output-output dan maksud itu realistis.
  17. Logika secara vertikal antara aktivitas-aktivitas, output-output, maksud dan tujuan seluruhnya itu realistis.
  18. Indikator-indikator pada level maksud bersifat independen dari output-output. Indikator-indikator itu bukanlah merupakan sebuah ringkasan dari output-output tetapi adalah sebuah ukuran dari maksud.
  19. Indikator-indikator maksud mengukur apa yang penting.
  20. Indikator-indikator maksud mempunyai ukuran-ukuran kwantitas, kwalitas dan waktu.
  21. Indikator-indikator output dapat diuji secara obyektif dalam hal kwantitas, kwalitas dan waktu.
  22. Indikator-indikator level tujuan dapat diuji secara obyektif dalam hal kwantitas, kwalitas, dan waktu.
  23. Input-input yang diuraikan pada level aktivitas menjelaskan tentang sumberdaya-sumberdaya dan biaya-biaya yang dibutuhkan guna menyelesaikan maksud.
  24. Kolom Alat untuk Melakukan Pengujian menunjukkan dimana dapat ditemukannya informasi untuk menguji setiap indikator.
  25. Aktivitas-aktivitas menunjukkan tindakan-tindakan apa saja yang diperlukan untuk mengumpulkan Alat-alat Uji.
  26. Output-output menjelaskan tanggungjawab pengelolaan proyek.
  27. Ketika meninjau ulang LogFrame, anda dapat menjelaskan rencana untuk mengadakan evaluasi proyek.
  28. Indikator-indikator maksud mengukur dampak proyek untuk diteruskan.
  29. Strategi output termasuk suatu uraian tentang sistem pengelolaan proyek.

Sumber: http://lingkarlsm.com/2011/12/penyusunan-kerangka-kerja-logis-lfa-langkah-8-11/

Menyusun Indikator LFA

Menyusun Indikator LFA

Indikator-Indikator dalam Kerangka Kerja Logis (Logframe) menunjukkan kinerja. Di dalam analisis dan perencanaan kerangka kerja logis, indikator memegang peranan yang sangat penting yaitu:

  • menetapkan target yang realistis (minimum dan sebaliknya) untuk mengukur atau menilai apakah tujuan dari setiap tingkatan sudah tercapai,
  • memberikan dasar untuk memonitor, mengkaji ulang dan mengevaluasi kegiatan proyek untuk kemudian dimanfaatkan di dalam manajemen pelaksanaan proyek dan menjadi bagian dari pelajaran yang dapat dipetik bagi proyek-proyek lain,
  • proses menetapkan indikator memberi andil di dalam menunjukkan transparansi, kesepakatan dan kepemilikan dari semua tujuan, kerangka kerja logis dan perencanaan.

Sebelum melihat bagaimana indikator disusun, beberapa hal penting yang perlu diperhatikan adalah:

  • Siapa yang menetapkan indikator adalah hal yang penting, bukan hanya untuk menimbulkan rasa memiliki dan transparansi, tapi juga bagi keefektifan indikator yang dipilih. Menetapkan tujuan dan indikator harus merupakan kesempatan yang berarti bagi manajemen partisipatif.
  • Berbagai jenis indikator akan efektif; tuntutan terhadap adanya verifikasi yang obyektif dapat berarti bahwa fokus diletakkan pada kuantitas atau kesederhanaan indikator yang lebih sukar diverifikasi tapi lebih mampu menangkap inti dari perubahan yang sedang terjadi.
  • Semakin sedikit indikator semakin baik. Mengukur perubahan memakan biaya, jadi gunakan indikator sesedikit mungkin. Tapi harus ada indikator yang cukup untuk mengukur besarnya perubahan yang sedang terjadi dan memberikan triangulasi (pemeriksaan balik) yang dibutuhkan.

Menyusun Indikator

Indikator biasa juga disebut Objectively Verifiable Indicators (OVIs) untuk menekankan bahwa indikator bukan hanya sekedar penilaian yang subyektif, tapi harus disusun sedemikian rupa sehingga jika pengamat lain mengukur kinerja, kesimpulan mereka akan sama. Indikator akan lebih efektif jika mengandung unsur-unsur kuantitas (quantity), kualitas (quality), dan waktu (time) atau disingkat QQT.

Sebagai contoh, kita mulai dengan indikator dasar:

Langkah 1: Indikator dasar:
Hasil panen beras dari petani kecil (yang luas tanahnya kurang atau sama dengan 3 hektar) meningkat
Langkah 2: Tambahkan kuantitas:
Hasil panen beras dari petani kecil (yang luas tanahnya kurang atau sama dengan 3 hektar) meningkat sebanyak X kg.
Langkah 3: Tambahkan kualitas:
Hasil panen beras (yang kualitasnya sama dengan panen tahun 1998) dari petani kecil (yang luas tanahnya kurang atau sama dengan 3 hektar) meningkat sebanyak X.
Langkah 4: Tambahkan waktu:
Hasil panen beras (yang kualitasnya sama dengan panen tahun 1998) dari petani kecil (yang luas tanahnya kurang atau sama dengan 3 hektar) meningkat sebanyak X pada panen akhir tahun 1999.

Milestones (kejadian yang penting)

Ada kemungkinan timbul kebingungan dalam pemakaian istilah. Kadang-kadang istilah milestones digunakan untuk mengartikan hal yang sama dengan OVI. Namun, jika memang digunakan, mungkin akan lebih baik mengartikannya sebagai target langsung yang sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan dalam jangka waktu yang sudah disepakati. Sebenarnya milestone adalah indikator yang ‘formatif’; pengukuran dilakukan selama berlangsungnya kegiatan, tahapan atau proyek yang menunjukkan apakah kemajuan proyek tetap berada ‘di atas jalur’, tidak sama dengan indikator ‘summatif’ yang digunakan pada kesimpulan atau akhir proyek.

Sumber: http://lingkarlsm.com/2011/12/penyusunan-kerangka-kerja-logis-lfa-menyusun-indikator/

 

Tinggalkan Balasan