Perubahan Iklim dan Pengurangan Resiko Bencana

Categories: Materi

Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana

Tidak jarang (artinya sering), muncul perdebatan – bagaimana integrasi perubahan iklim dalam pengurangan risiko bencana. Sekalipun disadari, keduanya memiliki pertalian yang sangat kuat. Bahkan pada beberapa kasus, tidak lagi bisa dipisahkan. Pada bahaya/ancaman bencana yang berhubungan dengan hidrometeorologis, seperti banjir, longsor, angin ribut, kebakaran lahan, atau kekeringan – hampir tidak ada perseteruan pendapat adanya keterkaitan iklim atas kejadian bencana tersebut. Demikian juga dengan wabah atau epidemik, seperti malaria, DBD atau diare

Bagaimana dengan gerombolan  bahaya geologis seperti gempa bumi, tsunami atau letusan gunungapi? Adakah pertaliannya dengan iklim? Demikian juga dengan kegagalan teknologi dan konflik sosial. Dimana pertautannya? atau tidak ada hubungannya sama sekali?

atau….. ya pinter-pinternya kita saja, untuk bisa menghubung2 kan. Kan orang Indonesia itu terkenal kreatif dan inovatif. “Otak atik gatuk“. Apapun bisa “diakali”. termasuk hukum yang katanya “panglima” di Negeri ini.

Risiko = Bahaya x Kerentanan/Kapasitas (R = H x V/C). Demikian rumus sakti yang populer dikalangan penggiat PRB. Artinya, risiko bencana merupakan perbaduan dari ancaman bencana/bahaya (apapun jenisnya) saat bersanding mesra dengan kerentanan dan. Tingkat risiko bencana menunjukan “konsekwensi” logis yang akan harus diterima dari kondisi riil yang ada dari ketiganya.

UU PB menjelaskannya dengan :

Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat. (Ps 1 (17))

Pada beberapa refrensi, untuk memunculkan nilai risiko bencana, cukup dengan menilai bahaya dan kerentanan. Asumsinya, kapasitas merupakan kebalikan dari kerentanan. jika berkapasitas, tentu saja tidak rentan. jika rentan, tentu tidak berkapasitas. simpel bukan?

Apapun yang menjadi tentang perdebatan penggunaan “rumus” untuk memunculkan nilai risiko, yang juga sangat penting adalah; ketersediaan dan sumber data serta analisisnya. bahkan pada beberapa kasus (seperti pendekatan partisipatif), cara mengambil data pun menjadi persoalan tersendiri. Jangan harap anda mendapatkan data (apalagi valid), jika kita menggunakan “cara” yang tidak disukai masyarakat. apalagi dengan menantang kebiasaan atau adat. sekalipun anda menggunakan AK 47 dengan kawalan 7 pletoon SATPOL PP Berbadan tegap dan berotot ala Ade Ray. Never…  Komunitas tidak akan memberikan seluruh data-data, apalagi yang valid jika mereka tidak senang atau tidak memberi manfaat apa2 bagi dirinya, keluarganya atau komunitasnya.

Tidak ada hubungan banjir, longsor atau angin ribut dan kekeringan dengan pemanasan global sebagai biang perubahan iklim. Sekalipun ada, hanya sekelompok kecil yang mengkaitkan perubahan iklim. Dan argumen tersebut lemah. Faktanya, dari dulu perubahan iklim merupakan siklum alamiah. Sebagai siklus alam, bumi memang mengalami perubahan-perubahan tersebut. Karena perubahan tersebut, terjadi proses evoluasi. juga perpindahan era pleistosen (diluvium) –  holosen/aluvium seperti saat sekarang (enseklopedia Indonesia, 2012). Kepunahan berbagai penghuni bumi berukuran jumbo seperti Brachiosaurus seberat 80 ton diyakini akibat perubahan iklim (penelitian lain menyebutkan kepunahan akibat meteorit yang jatuh ke bumi).  Begitu kira2 pendapat sekelompok ilmuan dalam mensikapi polemik pemanasan global yang menjadi tema sentral paska pertemuan bumi, 1992. artinya,  –  pada saatnya seluruh penghuni bumi yang saat ini ada akan punah. dan itu proses alamiah.

Namun para ahli yang lain percaya. Bahkan sangat yakin jika banjir, badai atau kekeringan yang terjadi lebih eksrim bertalian erat dengan pemanasan global. Dan pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim ini tidak terjadi secara alamiah. Namun dipicu percepatannya oleh berbagai kegiatan manusia. dari hitung-hitungan konsentrasi gas rumah kaca, meningkat sangat signifikan memenuhi atmosfir bumi paska revolusi industri. setelah ditemukannya mesin uap dan memudahkan proses ekplorasi dan eksploitasi serta produksi. terjadi juga peningkatan pola konsumsi. dan tentu menciptakan sampah yang bekali lipat lebih besar.

Perubahan Iklim dan Risiko Bencana

Bisa dibilang tidak terjadi perdebatan saat membicarakan jenis ancaman bencana hidrometeorologis dan biologis memiliki hubungan dengan perubahan iklim. pertalian langsung dapat dengan mudah masuk ke logika. tingkat ancaman bencana meningkat atau menurun (dilihat dari probablitas dan dampaknya) bisa dihubungkan secara langsung dengan terjadinanya perubahan iklim.perubahan iklim yang memicu kondisi ekstrim, secara langsung mempengaruhi tingkat bahaya yang ada.

bisa dibayakngkan, curah hujan yang lebih tinggi dari biasanya turun pada priode yang lebih pendek. secara jelas kita bisa membayangkan –  lingkungan yang ada tidak lagi mampu menampung secara alamiah. apalagi lingkungan yang ada terlanjur rusak. sama halnya kita di guyur air satu ember ukuran 50 lt satu kali guyuran. dibandingkan kita menggunakan gayung atau shower. Sama-sama volume air 50 lt pada satu obyek yang ditumpahkan, namun berbeda dari sisi waktu karena media yang digunakan.

kerap kita meng-generalisir sesuatu, seolah dampak perubahan iklim menyebabkan musim hujan lebih pendek dan kemarau lebih panjang dan kering. faktanya, tidak selalu seperti itu. dampak perubahan iklim tidak bersifat statis. karena juga akan dipengaruhi dengan banyak faktor. untuk Indonesia sebagai wilayah tropis dan berada di garis katulistiwa, iklim yang ada juga dipengaruhi oleh la nina dan el nino yang mempengaruhi kecenderungan musim. Kita tentu masih ingat tahun 2010, sebagian besar wilayah Indonesia tidak merasakan kemarau. sebaliknya tahun 2012, kemarau dirasakan sangat panjang dan kering.

Jika mengacu pada rumus risiko bencana, ancaman bencana, baik berjenis kelamin hidrometeorologis, biologis, geologis atau industri merupakan salah satu variabel. variabel lain adalah kerentanan dan kapasitas. dalam kontek bahaya atau ancaman bencana, perubahan iklim memiliki keterkaitan dengan perubahan pola sifat iklim. terjadinya fenomena menyimpang dan ekstrim tentu perlu mendapatkan tempat tersendiri dalam menentukan tingkat ancaman bencana. demikian juga implikasi perubahan-perubahan tersebut pada beberapa jenis vektor. bagaimana menempatkan hal tersebut pada rumusan nilai tingkat ancmaan bencana? apakah sudah terakomodir dengan rumusan probabilitas dan dampak?

Hal yang juga perlu untuk dilihat dalam menghitung variabel bahaya atau ancaman bencana dalam kontek risiko bencana adalah rumusan yang digunakan oleh penggiat perubahan iklim; V = E + S – C. dalam rumusan ini, penggiat perubahan iklim pada akhir kajiannya adalah untuk melihat tingkat kerentanan. menjadi pertanyaan besar adalah; apakah kerenanan yang menjadi salah satu variabel risiko bencana dapat secara langsung di overlay dari hasil kajian kerentanan iklim?

untuk mengatakan iya atau tidak, tentu kita perlu melihat secara mendalam komponen2 yang digunakan dari masing-masing variabel. Kerentanan dalam kontek manajemen bencana adalah melihat dari lima aset penghidupan; human, social –  culture, finance/economic, infrastructure and nature. dan kerentanan sendiri dilihat atau disandingkan dengan jenis dan nilai hazard/ancaman bencana yang ada.

Sedangkan dalam analisis kerentanan iklim, sekalipun juga ada beberapa refrensi yang juga menggunakan lima aset penghidupan dalam menilai kerenanan –  namun jika melihat dari variabel yang digunakan untuk mendapatkan nilai tersebut berbeda. exposure atau keterpaparan misalnya dimaknai sebagai penerimaan; manusia atau infrastruktur terhadap terpaan suatu bahaya menurut lokasi serta pertahanan fisiknya. atau bisa dimaknai jenis aset yang bernilai yang berada pada risiko untuk terkena dampak dari sistem perubahan iklim. aset disini adalah aset sosial (manusia, kesehatan, pendidikan), ekonomi (properti, infrastuktur, pendapatan), dan aset ekologis (SDA dan jasa  ekologis). sedangkan sensitivitas dimaknai sebagai dampak. atau lebih lengkapnya adalah derajat atau tingkatan dimana sistem terkena dampak, baik negatif atau positif karena stimulan perubahan iklim.  atau bisa dimaknai sebagai tingaktan kerugian seseorang/kelompok atau ketegasan suatu infrastruktur/lingkungan terhadap terpaan suatu bahaya. sedangkan kapasitas adaptif dimaknai sebagai kemampuan suatu sistem untuk menyesuaikan dengan perubahan iklim (MercyCorps, 2012)

Jika melihat dari komponen-komponen yang ada, seharusnya kerentanan yang ada dalam kajian kerantanan iklim secara langsung sudah dapat digunakan dalam kajian risiko bencana dengan satu catatan, hazard atau ancaman bencana telah terindentifikasi atau digunakan dalam kajian kerentanan tersebut. Ini penting menjadi catatan, karena dalam kajian risiko bencana, kerentanan seseorang atau kelompok terhadap ancaman bencana yang ada bisa berbeda-beda. seseorang/kelompok memiliki kerentanan rendah pada satu ancaman bencana tertentu, tapi bisa tinggi pada ancaman bencana yang lain. demikian juga dengan kapasitasnya.

Hal positif yang bisa kita tarik adalah –  kemungkinan untuk mengintegrasikan kajian antara risiko bencana dan iklim jelas sangat mungkin. tinggal kembali pada pelaksana atau penggiat –  apakah cukup terbuka atau memiliki niat untuk mengintegrasikannya?

hal di atas baru untuk tipe atau jenis ancaman bencana hidrometeorologis dan biologis, bagaimana dengan jenis kelamin geologis dan teknologi?

Jika kita melihat variabel risiko bencana tidak hanya melihat dan menilai tingkat hazard atau ancaman bencana. tentu kita harus terbuka untuk melihat secara jeli tingkat kerentanan dan kapasitas yang dipengaruhi iklim. dalam menghadapi erupsi gunungapi, apakah kerentanan dari sisi sosial budaya yang ada, terpengaruh dengan perubahan iklim. begitu juga dalam kontek ekonomi, infrastruktur maupun lingkungan. Jika ya –  sekalipun jenis ancaman bencana geologis atau industri, namun karena variabel risiko lainnya terpengaruh –  sudah seharusnya kajian iklim menjadi hal mendasar untuk digunakan. karena pendapatan seseorang dari sektor pertanian, sekalipun ancamannya geologis –  menentukan tingkat ekonomi sebagai salah satu komponen kerentanan.

Dampak Perubahan Iklim

 Dampak Perubahan Iklim

Perubahan iklim merupakan sesuatu yang sulit untuk dihindari dan memberikan dampak terhadap berbagai segi kehidupan. Dampak ekstrem dari perubahan iklim terutama adalah terjadinya kenaikan temperatur serta pergeseran musim. Kenaikan temperatur menyebabkan es dan gletser di Kutub Utara dan Selatan mencair. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya pemuaian massa air laut dan kenaikan permukaan air laut. Hal ini akan menurunkan produksi tambak ikan dan udang serta mengancam kehidupan masyarakat pesisir pantai.

Dampak Perubahan Iklim Regional

Pola musim mulai tidak beraturan sejak 1991 yang mengganggu swasembada pangan nasional hingga kini tergantung import pangan. Pada musim kemarau cenderung kering dengan trend hujan makin turun salah satu dampak kebakaran lahan dan hutan sering terjadi. Meningkatnya muka air danau khususnya danau Toba makin susut dan mungkin      danau/waduk lain di Indonesia, konsentrasi es di Puncak Jayawija Papua semakin berkurang dan munculnya kondisi cuaca ekstrim yang sering yang menimbulkan bencana banjir bandang dan tanah longsor di beberapa lokasi dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa kajian dari IPCC 4AR yang menyinggung Indonesia secara spesifik antara lain : Meningkatnya hujan di kawasan utara dan menurunnya hujan di selatan (khatulistiwa). Kebakaran hutan dan lahan yang peluangnya akan makin besar dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas El-Nino. Delta Sungai Mahakam masuk ke dalam peta kawasan pantai yang rentan. (Murdiyarso, 2007).

Dampak perubahan iklim terhadap pertanian

Diperkirakan produktivitas pertanian di daerah tropis akan mengalami penurunan bila terjadi kenaikan suhu rata-rata global antara 1-2o C sehingga meningkatkan risiko bencana kelaparan. Meningkatnya frekuensi kekeringan dan banjir diperkirakan akan memberikan dampak negatif pada produksi lokal, terutama pada sektor penyediaan pangan di daerah subtropis dan tropis. Terjadinya perubahan musim di mana musim kemarau menjadi lebih panjang sehingga menyebabkan gagal panen, krisis air bersih dan kebakaran hutan. Terjadinya pergeseran musim dan perubahan pola hujan, akibatnya Indonesia harus mengimpor beras. Pada tahun 1991, Indonesia mengimpor sebesar 600 ribu ton beras dan tahun 1994 jumlah beras yang diimpor lebih dari satu juta ton (KLH, 1998). Adaptasi bisa dilakukan dengan menciptakan bibit unggul atau mengubah waktu tanam. Peningkatan suhu regional juga akan memberikan dampak negatif kepada penyebaran dan reproduksi ikan.

Tabel 1 : Luas tanaman padi terkena bencana banjir dan kekeringan dan puso (ha) pada tahun 1988-1997 (Yusmin, 2000)

Tahun

Keterangan

Kebanjiran(ha)

Kekeringan(ha)

Puso(ha)

1987

El-Nino

***

430.170

***

1988

La-Nina

130.375

87.373

44.049

1989

Normal

96.540

36.143

15.290

1990

Normal

66.901

54.125

19.163

1991

El-Nino

38.006

867.997

198.054

1992

Normal

50.360

42.409

16.882

1993

Normal

78.480

66.992

47.259

1994

El-Nino

132.975

544.422

194.025

1995

La-Nina

218.144

28.580

51.571

1996

Normal

107.385

59.560

50.649

1997

El-Nino

58.974

504.021

102.254

 

Dampak Perubahan iklim terhadap kenaikan Muka Air Laut.

Naiknya permukaan laut akan menggenangi wilayah pesisir sehingga akan menghancurkan tambak-tambak ikan dan udang di Jawa, Aceh, Kalimantan dan Sulawesi (UNDP, 2007). akibat pemanasan global pada tahun 2050 akan mendegradasi 98 persen terumbu karang dan 50% biota laut. Gejala ini sebetulnya sudah terjadi di kawasan Delta Mahakam Kalimantan Timur, apabila suhu air laut naik 1,50C setiap tahunnya sampai 2050 akan memusnahkan 98% terumbu karang. di Indonesia kita tak akan lagi menikmati lobster, cumi-cumi dan rajungan. Di Maluku, nelayan amat sulit memperkirakan waktu dan lokasi yang sesuai untuk menangkap ikan karena pola iklim yang berubah.

Kenaikan temperatur menyebabkan es dan gletser di Kutub Utara dan Selatan mencair. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya pemuaian massa air laut dan kenaikan permukaan air laut. Hal ini membawa banyak perubahan bagi kehidupan di bawah laut, seperti pemutihan terumbu karang dan punahnya berbagai jenis ikan. Sehingga akan menurunkan produksi tambak ikan dan udang serta mengancam kehidupan masyarakat pesisir pantai. Kenaikan muka air laut juga akan merusak ekosistem hutan bakau, serta merubah sifat biofisik dan biokimia di zona pesisir.

Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan.

Frequensi timbulnya penyakit seperti malaria dan demam berdarah meningkat. Penduduk dengan kapasitas beradaptasi rendah akan semakin rentan terhadap diare, gizi buruk, serta berubahnya pola distribusi penyakit-penyakit yang ditularkan melalui berbagai serangga dan hewan. ”Pemanasan global” juga memicu meningkatnya kasus penyakit tropis seperti malaria dan demam berdarah. Penduduk dengan kapasitas beradaptasi rendah akan semakin rentan terhadap diare, gizi buruk, serta berubahnya pola distribusi penyakit-penyakit yang ditularkan melalui berbagai serangga dan hewan. Faktor iklim berpengaruh terhadap risiko penularan penyakit tular vektor seperti demam berdarah dengue (DBD) dan malaria. Semakin tinggi curah hujan, kasus DBD akan meningkat. suhu berhubungan negatif dengan kasus DBD, karena itu peningkatan suhu udara per minggu akan menurunkan kasus DBD. Penderita alergi dan asma akan meningkat secara signifikan. Gelombang panas yang melanda Eropa tahun 2005 meningkatkan angka “heat stroke” (serangan panas kuat) yang mematikan, infeksi salmonela, dan “hay fever” (demam akibat alergi rumput kering).

Dampak perubahan iklim terhadap sumber daya air.

Pada pertengahan abad ini, rata-rata aliran air sungai dan ketersediaan air di daerah subpolar serta daerah tropis basah diperkirakan akan meningkat sebanyak 10-40%. Sementara di daerah subtropis dan daerah tropis yang kering, air akan berkurang sebanyak 10-30% sehingga daerah-daerah yang sekarang sering mengalami kekeringan akan semakin parah kondisinya.

Dampak perubahan iklim terhadap Ekosistem

Kemungkinan punahnya 20-30% spesies tanaman dan hewan bila terjadi kenaikan suhu rata-rata global sebesar 1,5-2,5oC. Meningkatnya tingkat keasaman laut karena bertambahnya Karbondioksida di atmosfer diperkirakan akan membawa dampak negatif pada organisme-organisme laut seperti terumbu karang serta spesies-spesies yang hidupnya bergantung pada organisme tersebut. Dampak lainnya yaitu hilangnya berbagai jenis flaura dan fauna khususnya di Indonesia yang memiliki aneka ragam jenis seperti pemutihan karang seluas 30% atau sebanyak 90-95% karang mati di Kepulauan Seribu akibat naiknya suhu air laut. (Sumber World Wild Fund (WWF) Indonesia)

Dampak perubahan iklim Sektor Lingkungan

Dampak perubahan iklim akan diperparah oleh masalah lingkungan, kependudukan, dan kemiskinan. Karena lingkungan rusak, alam akan lebih rapuh terhadap perubahan iklim. Dampak terhadap penataan ruang dapat terjadi antara lain apabila penyimpangan iklim berupa curah hujan yang cukup tinggi, memicu terjadinya gerakan tanah (longsor) yang berpotensi menimbulkan bencana alam, berupa : banjir dan tanah longsor. Dengan kata lain daerah rawan bencana menjadi perhatian perencanaan dalam mengalokasikan pemanfaatan ruang.

Dampak perubahan iklim pada Sektor Ekonomi

Semua dampak yang terjadi pada setiap sektor tersebut diatas pastilah secara langsung akan memberikan dampak terhadap perekonomian Indonesia akibat kerugian ekonomi yang harus ditanggung.

Dampak perubahan iklim pada pemukim perkotaan

Kenaikan muka air laut antara 8 hingga 30 centimeter juga akan berdampak parah pada kota-kota pesisir seperti Jakarta dan Surabaya yang akan makin rentan terhadap banjir dan limpasan badai. Masalah ini sudah menjadi makin parah di Jakarta karena bersamaan dengan kenaikan muka air laut, permukaan tanah turun: pendirian bangunan bertingkat dan meningkatnya pengurasan air tanah telah menyebabkan tanah turun.Namun Jakarta memang sudah secara rutin dilanda banjir besar:p ada awal Februari,2007,banjir di Jakarta menewaskan 57 orang dan memaksa 422.300 meninggalkan rumah, yang 1.500 buah di antaranya rusak atau hanyut.Total kerugian ditaksir sekitar 695 juta dolar.

Suatu penelitian memperkirakan bahwa paduan kenaikan muka air laut setinggi 0,5 meter dan turunnya tanah yang terus berlanjut dapat menyebabkan enam lokasi terendam secara permanen dengan total populasi sekitar 270,000 jiwa, yakni: tiga di Jakarta – Kosambi, Penjaringan dan Cilincing; dan tiga di Bekasi – Muaragembong, Babelan dan Tarumajaya.Banyak wilayah lain di negeri ini juga akhir-akhir ini baru dilanda bencana banjir. Banjir besar di Aceh, misalnya, di penghujung tahun 2006 menewaskan 96 orang dan membuat mengungsi 110,000 orang yang kehilangan sumber penghidupan dan harta benda mereka. Pada tahun 2007 di Sinjai, Sulawesi Selatan banjir yang berlangsung berhari-hari telah merusak jalan dan memutus jembatan, serta mengucilkan 200.000 penduduk. Selanjutnya masih pada tahun itu,banjir dan longsor yang melanda Morowali, Sulawesi Utara memaksa 3.000 orang mengungsi ke tenda-tenda dan barak-barak darurat.

Sumber: http://iklim.dirgantaralapan.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=60&Itemid=37

Integrasi Adapatasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko bencana

Integrasi Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana

 Seluruh upaya adaptasi perubahan iklim merupakan upaya pengurangan risiko bencana. Demikian juga sebaliknya, upaya PRB merupakan bagian dari upaya perlawanan terhadap dampak perubahan iklim. Pada tataran operasional – keduanya menyatu padu dalam satu tujuan yaitu ketahanan sebagai wujud dari perlindungan dan keselamatan untuk kehidupan bermartabat.

 

Integrasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Adaptasi Perubahan Iklim (API) merupakan upaya menyatukan keduanya sebagai satu kesatuan yang utuh. Disadari, dalam kontek praktik, upaya API – PRB tidak dapat dipisahkan. Perbedaan muncul lebih dikarenakan isu atau disiplin keilmuan yang membidangi keduanya. Selanjutnya menurunkan perbedaan-perbedaan dalam pendekatan untuk melihat pokok persoalan yang ada. Pada tujuan akhir, keduanya kembali menjadi satu kesatuan yang utuh; menempatkan perlindungan dan keselamatan sebagai sasaran akhir. PRB maupun API menempatkan manusia mampu mengurangi risiko yang diakibatkan oleh ancaman bencana maupun dampak buruk perubahan iklim.

Adaptasi perubahan iklim merupakan upaya mengurangi kerentanan atas bahaya sekaligus meningkatkan kapasitas pada seluruh komponen dari aset penghidupan (sunstainable livelihood/penthagon asset); human, social, physic, nature and finance. Dari sisi kapasitas, pada tiga komponen utama; preparedness (kesiapsiagaan), partisipasi (participatory) maupun kebijakan (policy), termasuk kelembagaan yang lebih tangguh dalam menghadapi ancaman bencana yang meningkat akibat perubahan iklim. Sementara  dalam kontek adaptasi perubahan iklim, PRB merupakan strategi atau pendekatan dalam adaptasi.

Keduanya memilki hubungan signifikan. Hal yang penting untuk dilakukan adalah saling menguatkan pendekatan-pendekatan yang telah berkembang. Salah satunya adalah kajian kerentanan terhadap dampak perubahan iklim yang menggunakan prediksi ke depan (30 – 60 ke depan) sebagai basis analisis tingkat kerentanan sebuah komunitas atau kawasan. Penggunaan data-data iklim dalam rentang waktu panjang secara konstan (20 – 30 tahun ke belakang sampai saat ini) untuk menarik prediksi iklim ke depan merupakan hal penting untuk dipertimbangkan dalam kajian risiko bencana. Sehingga hasil kajian berupa tingkat risiko bencana dapat menggambarkan hasil jangka panjang.

 

Kami hanya menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang ada. Banjir semakin tinggi, kami harus meninggikan rumah kami. Biar banjir tidak masuk ke dalam rumah. Tapi, saya bingung kalau banjirnya semakin tinggi.

Muhammad Ali – Warga Demak

Di wilayah yang rutin didatangi banjir atau rob, model bangunan rumah umumnya telah menyesuaikan dengan ancaman banjir;Model rumah panggung, lantai yang lebih tinggi atau bangunan dua lantai. Tersedia juga tempat aman dari air banjir untuk menyimpan berbagai barang berharga. Lebih dari itu, warga juga telah menyiapkan peralatan mobilisasi atau penyelamatan diri seperti perahu, perahu karet, ban dalam mobil, kompan atau pelampung. Demikian juga pada jenis mata pencaharian. Masyarakat umumnya memiliki lebih dari satu jenis mata pencaharian yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan.

Apa yang dilakukan komunitas pada kawasan banjir merupakan bentuk penyesuaian diri dengan lingkungan. Penyesuaian tersebut akan bertahan dan berkembang mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi sampai pada batas kemampuan komunitas itu sendiri untuk bertahan hidup.

Pemanasan global yang mempengaruhi pola iklim secara global menjadi landasan berpikir kritis. Berbagai upaya penyesuaian yang telah ada, apakah mampu bertahan mengahadapi kemungkinan perubahan yang lebih ekstrem. Luasan  dan tinggi banjir meningkat, arus air lebih tinggi atau waktu banjir menjadi lebih lama. Seberapa besar kesiapan atau penyesuaian diri yang telah ada mampu mengahadapi ancaman banjir yang semakin meningkat? Bagaimana dengan wilayah yang sebelumnya tidak mengalami banjir saat menjadi wilayah baru yang ikut tergenang?

Banjir baru satu dari sekian ancaman bencana yang berkorelasi erat dengan perubahan iklim. Angin ribut/topan, longsor, kekeringan, kebakaran dan wabah merupakan bentuk lain yang berpotensi bencana. Menjadi lebih komplek ketika berbagai ancaman bencana tersebut dihubungkan dengan ancaman sekunder dari banjir; krisis air bersih, ketersediaan pangan, sebaran wabah sampai tindak kriminal akibat berhentinya sektor pendukung perekonomian warga.

Pengurangan risiko bencana tidak bisa lepas dari perubahan iklim. Dari beberapa kasus kejadian bencana, dampak perubahan iklim secara langsung mempengaruhi tingkat risiko bencana. Peningkatan risiko terjadi karena dampak perubahan iklim memicu peningkatan bahaya, meningkatkan kerentanan serta menurunkan kapasitas.

Dari sisi kuantitas, bencana yang di picu oleh faktor hidrometeorologi menempati jumlah terbanyak. Demikian juga dari sisi kerugian. Dari ata BNPB, 95 % dari kejadian bencana di Indonesia berhubungan erat dengan iklim. Sedangkan sisanya merupakan bencana geologis dan akibat manusia. Banjir menempati posisi tertinggi kejadian di Indonesia sebesar 34%. Kejadian lain dengan jumlah tinggi adalah kebakaran, kebakaran hutan dan lahan (17%), tanah longsor (13%), puting beliung (13%), dan wabah (12%)[1][1].

Bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya, dampak perubahan iklim semakin berat karena kemampuan adaptasi belum sepenuhnya disiapkan dengan baik. Pada hal yang paling mendasar, seperti data dan informasi saja, masih belum mampu terdistribusikan ke masyarakat. Sementara, berbagai upaya antisipasi penanggulnagan bencana; baik tindakan preventif, mitigasi maupun kesiapsiagaan masih belum menjadi prioritas utama. Paling tidak, kita dapat melihatnya dari ketersediaan anggaran negara, baik di nasional maupun daerah masih jauh di bawah terget ideal yang didorong oleh PBB, sebesar 30 % total dana APBN/APBD.

Tulisan ini disusun sebagai media memperkaya wacana mengenai integrasi adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana. Harapanya, Materi-materi dalam briefing paper ini dapat dikembangkan dan menjadi media diskusi bagi para praktisi, akademisi maupun sektor swasta sebagai bentuk partisipasi dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim.

Sumber: http://ina-has.blogspot.com/2013/01/integrasi-adaptasi-iklim-dan.html

Penyebab dan Dampak Perubahan Iklim

PENYEBAB DAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM

 

Gas Rumah Kaca (Efek Rumah Kaca) dapat digambarkan sebagai sebuah proses.Rumah kaca adalah analogi atasbumi yang dikelilingi gelas kaca. Panas matahari masuk ke bumi dengan menembus gelas kaca tersebut berupa radiasi gelombang pendek. Sebagian diserap oleh bumi dan sisanya dipantulkan kembali ke angkasa sebagai radiasi gelombang panjang. Namun, panas yang seharusnya dapat dipantulkan kembali ke angkasa menyentuh permukaan gelas kaca dan terperangkap di dalam bumi. Layaknya proses dalam rumah kaca di pertanian dan perkebunan, gelas kaca memang berfungsi menahan panas untuk menghangatkan rumah kaca. Masalah timbul ketika aktivitas manusia menyebabkan peningkatan konsentrasi selimut gas di atmosfer (Gas Rumah Kaca/GRK) sehingga melebihi konsentrasi yang seharusnya dan menyebabkan pemanasan global.

 

Perubahan iklim adalah perubahan dalam status iklim yang diidentifikasi dengan perubahan rata-rata dan atau variabilitas factor-faktor yang berkaitan dengan  iklim dan tetap berlaku untuk peride yang luas atau lebih panjang (IPCC, 2007)[1][2].

UU 32/2009 PPLH Pasal 1 (19) mendefinisikan Perubahan iklim adalah berubahnya iklim yang diakibatkan langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia sehingga menyebabkan perubahan komposisi atmosfir secara global dan selain itu juga berupa perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan.

Perubahan iklim, yang dipicu oleh pemanasan global lebih diakibatkan oleh peningkatan jumlah emisi Gas Rumah Kaca (GRK)di atmosfer. Gas Rumah Kaca (GRK) adalah gas yang pada saat terakumulasi di atmosphere dan menciptakan selubung kemudian menimbulkan gangguan pada pelepasan panas dari bumi ke luar lapisan atmosphere. Gas yang memungkinkan untuk hal tersebut terjadi adalah:  Karbon Dioksida (CO2), Metana (CH4), Nitrogen oksida (N2O), Hidrofluorokarbon (HFCs), Perfluorokarbon (PFCs), dan Sulfur hexafluoride (SF6).

Energi dari matahari memacu cuaca dan iklim bumi serta memanasi permukaan bumi; sebaliknya bumi mengembalikan energi tersebut ke angkasa. Gas rumah kaca pada atomsfer (uap air, karbondioksida dan gas lainnya) menyaring sejumlah energi yang dipancarkan, menahan panas seperti rumah kaca. Tanpa efek rumah kaca natural ini maka suhu akan lebih rendah dari yang ada sekarang dan kehidupan seperti yang ada sekarang tidak mungkin ada. Jadi gas rumah kaca menyebabkan suhu udara di permukaan bumi menjadi lebih nyaman sekitar 60° F/15° C.

Permasalahan muncul ketika konsentrasi gas rumah kaca pada atmosfer bertambah. Sejak awal revolusi industri, konsentrasi karbon dioksida pada atmosfer bertambah mendekati 30%, konsetrasi metan  lebih dari dua kali, konsentrasi asam nitrat bertambah 15%.

Penambahan tersebut telah meningkatkan kemampuan menjaring panas pada atmosfer bumi. Mengapa konsentrasi gas rumah kaca bertambah? Para ilmuwan umumnya percaya bahwa pembakaran bahan bakar fosil dan kegiatan manusia lainnya merupakan penyebab utama dari bertambahnya konsentrasi karbon dioksida dan gas rumah kaca.

Laporan Perserikatan Bangsa Bangsa tentang peternakan dan lingkungan (2006) mengungkapkan bahwa, “Sektor peternakan adalah satu dari dua atau tiga penyumbang terbesar bagi krisis lingkungan yang paling serius dalam setiap skala, mulai dari lokal hingga global.”Hampir seperlima (20 persen) dari emisi karbon berasal dari peternakan. Jumlah ini melampaui jumlah emisi gabungan yang berasal dari semua kendaraan di dunia!

Sementara, koalisi masyarakat sipil untuk keadilan iklim, sebuah forum organisasi non pemerintah di Indonesia yang memfokuskan pada advokasi keadilan iklim mengungkapkan –  pemanasan global lebih disebabkan pada ketimpangan pola produksi, konsumsi dan gaya hidup yang mendorong eksploitasi SDA melampaui kemampuan alam memulihkan dirinya. Sampah-sampah sebagai implikasi memenuhi kebutuhan dan produksi menjadi kontributor utama pemanasan global berbaur dengan eksploitasi SDA yang berlebih.

Kebakaran hutan, pembukaan hutan dan pemanfaatan kawasan gambut untuk perkebunan skala besar, pertambangan, perumahan, atau infrastruktur merupakan sumber penyebab pemanasan global di Indonesia.

Akibat kebakaran hutan, Indonesia ditempatkan sebagai penyumbang C02 ke empat di dunia. Sedangkan akibat laju kerusakan hutan yang 1,8 juta hektare per tahun, Indonesia bahkan tercatat dalam buku rekor dunia (Guinness Book of World Records) sebagai negara dengan kerusakan hutan terbesar di dunia[2][3].

Pemanasan global diikuti dengan perubahan iklim yang memicu peningkatan curah hujan di beberapa belahan dunis yang menimbulkan banjir dan erosi. Sementara di belahan bumi lain bias jadi mengalami kekeringan yang berkepanjangan disebabkan kenaikan suhu.

Dampak perubahan iklim

Implikasi perubahan iklim saat ini sudah menjadi momok bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Meningkatnya intensitas curah hujan menyebabkan banyak wilayah Indonesia teredam banjir, banjir bandang dan longsor. Hal yang cukup menghawatirkan dari curah hujan yang lebih tinggi dengan waktu relatif pendek adalah kemampuan bendungan-bendungan buatan yang terdapat dibanyak wilayah untuk menahan volume air.

Waduk atau Dam besar menjadi dilematis. Satu sisi, Dam atau waduk masih dianggap sebagai salah satu cara memanfaatkan sumberdaya air untuk berbagai kepentingan. Menyediakan air baku, irigasi, pembangkit listrik, perikanan atau rekreasi merupakan manfaat Dam. Selain fungsi DAM juga untuk pengendali banjir. Namun sisi lain, keberadaaan waduk menjadi menjadi teror ketika fungsi waduk tidak lagi berfungsi atau over capacity.

Ketidak mampuan waduk menahan volume air dan menjadi bencana terjadi di Queensland dan Brisbane, Australia. Dibukanya bendungan Wivanhoe karena tidak lagi mampu menahan volume air dari curah hujan yang ada, menyebabkan banjir di dua kawasan menjadi sangat parah.

 

Perubahan Iklim merupakan tantangan yang paling serius yang dihadapi dunia di abad 21. Sejumlah bukti baru dan kuat yang muncul dalam setudi mutakhir memperlihatkan bahwa masalah pemanasan yang terjadi 50 tahun terakhir disebabkan oleh tindakan manusia. Pemasan global di masa depan lebih besar dari yang diduga sebelumnya.

 

Di Indonesia, kasus yang sama terjadi saat Bendung Walahar dan limpasan air dari Jatiluhur menggelontor menggenangi wilayah lumbung padi Karawang tahun 2010. Padahal bendungan semisal Jatiluhur didesign dapat menahan limpasan air sampai dengan 3.000 m³/detik. Jadi kondisi Bendungan Jatiluhur secara fisik masih dikategorikan aman. Namun tingginya curah hujan yang terjadi di kawasan bendungan menaikkan tinggi muka air sehingga mencapai 108,42 m menyebabkan air melimpas dari pintu air dengan perkiraan sebanyak 400-500 m³/detik.Ancaman lain yang harus diwaspadai oleh Indonesia adalah banjir bandang akibat jebolnya tanggul seperti yang terjadi di Situ Gintung 2009.

Sebaliknya, kemarau yang lebih kering dan panjang mengancam ketersediaan air bersih dan kebutuhan air untuk pertanian. Ketahanan pangan dan mata pencaharian penduduk akan terganggu. Karena sektor ini merupakan mayoritas bagi penduduk Indonesia.

Berbagai dampak negatif perubahan iklim secara langsung akan mempengaruhi sektor-sektor penting, antara lain:

Air;

Dari tahun ke tahun air cenderung menurun akibat pencemaran lingkungan dan kerusakan daerah tangkapan air dan perubahan iklim.Pola curah hujan yang berubah-ubah juga mengurangi ketersediaan air untuk irigasi dan sumber air bersih.

Di wilayah pesisir, kesulitan air tanah dan kenaikan muka air laut akan memungkinkan air laut menyusup ke sumber-sumber air bersih. Di daerah sub polar serta daerah tropis basah diperkirakan rata-rata aliran air sungai dan ketersediaan air akan meningkat sebanyak 10-40%. Sementara di daerah subtropis dan daerah tropis yang kering, air akan berkurang sebanyak 10-30% sehingga daerah sekarang sering mengalami banjir dan kekeringan akan semakin parah kondisinya.

Pangan;

Ancaman terhadap ketahanan pangan dapat langsung dirasakan masyarakat pesisir, dataran tinggi, pedesaan maupun perkotaan. Kenaikan suhu rata-rata global antara 1-2°Cdi daerah tropis akan meningkatkan frekuensi kekeringan dan banjir. Akibatnya produktivitas pertanian seperti Indonesia akan mengalami penurunan[3][4]. Naiknya permukaan laut akan menggenangi wilayah pesisir sehingga akan menghancurkan tambak-tambak ikan dan udang.

Dept. Pertanian menyampaikan, periode 1993-2002 angka rata-rata lahan pertanian yang terkena kekeringan mencapai 220.380 hektar dengan lahan puso mencapai 43.434 hektar atau setara dengan hilangnya 190.000 ton gabah kering giling.

Khudori, Pengamat pangan nasional, menyebutkan kekeringan merusak tanaman padi rata-rata seluas 90.000-95.000 hektar per tahun (Khudori, 2011)[4][5].

Energi;

Dari data 8 waduk (4 waduk kecil dan 4 waduk besar di Jawa) menunjukkan bahwa selama tahun-tahun kejadian El Nino Southern Oscilation (ENSO) seperti tahun 1994, 1997, 2002,2003, 2004, dan 2006 kebanyakan pembangkit listrik yang dioperasikan di 8 waduk tersebut memproduksilistrik di bawah kapasitas normal (Indonesia Country Report, 2007)[5][6].

Kurangnya pasokan energy dari sektor terbaharukan akan mendorong pemenuhan listrik bersumber dari bahan bakar fosil (batu bara atau BBM). Kondisi tentu akan semakin meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca dan akan memperburuk kondisi iklim global

Kesehatan

Badan kesehatan dunia (WHO) menyatakan bahwa penyebaran penyakit malaria dipicu oleh terjadinya curah hujan di atas normal dan juga oleh pergantian cuaca yang kurang stabil. Seperti setelah hujan lebat berganti menjadi panas terik matahari yang menyengat. Hal tersebut mendorong  perkembang biakan nyamuk dengan cepat. Tiga penyakit dikategorikan sebagai pembunuh utama yang sensistif terhadap perubahan iklim antara lain; Undernutrition membunuh 2,7 juta/tahun, Diare; 1,8 juta/tahun danMalaria 1,1 juta/tahun (WHO, 2007).

Di Indonesia, laju kejadian DBD di berbagai kota besar di Pulau Jawa daritahun 1992-2005 meningkat secara konsisten (Indonesia Counry Report, 2007).

 

Sumber: http://ina-has.blogspot.com/2013/01/integrasi-adaptasi-iklim-dan.html

Dampak Perubahan Iklim Terhadap Kemiskinan

Dampak Perubahan Iklim Terhadap Kemiskinan

Jatna Supriatna

Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Indonesia, Kepala Pelaksana United in Diversity Forum Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

Petani dan Nelayan akan jadi korban terdepan dari perubahan iklim

Hujan yang terus menerus turun di bulan Mei ini banyak menimbulkan pertanyaan serius pada kami di Pusat Perubahan Iklim Universitas Indonesia. Pertanyanyaan yang umum kepada kami sebagai akademikus adalah pola seperti apa dan model bagaimana yang  akan terjadi dalam waktu dekat atau jangka panjang terhadap masyarakat yang masih tergantung pada keadaan iklim.  Dari hasil diskusi dan network kami, disajikan beberapa kemungkinan dampak perubahan iklim terhadap petani, nelayan, penduduk sekitar hutan maupun penduduk miskin diperkotaan.

Perubahan Iklim dapat mengancam upaya pemerintah untuk memerangi kemiskinan.  Dampaknya dapat memperparah resiko dan kerentanan yang dihadapi rakyat miskin, serta menambah beban persoalan yang sudah diluar kemampuan mereka untuk menghadapinya.

Mengapa Terjadi Perubahan Iklim?

Perubahan iklim global pada prinsipnya disebabkan naiknya gas-gas karbon dioksida, gas metan, dan gas-gas lain pada beberapa decade ini.  Gas-gas ini dikenal dengan sebutan ‘gas rumah kaca’ (GRK) karena berfungsi seperti kaca yang meneuskan cahaya matahari, tetapi menangkap energy panas dari dalamnya. Semakin tebal konsentrasi gasnya, semakin banyak panas bumi yang tertahan sehingga meningkatkan suhu udara yang dekat dengan permukaan bumi.

Perubahan iklim global sebenarnya bukanlah hal baru, karena secara alami iklim di bumi selalu berubah dari jutaan tahun lalu. Sebagai buktinya adalah sebagian besar wilayah bumi yang saat ini lebih hangat, sebenarnya merupakan tutupan es pada jutaan tahu, dan beberapa abad belakangan ini suhu bumi rata-rata telah naik turun secara musiman, sebagai akibat fluktuasi radiasi matahari atau akibat letusan gunung berapi secara berkala. Namun, diluar kejadian alami tersebut, saat ini perubahan iklim global lebih cepat terjadi akibat pningkatan gas gas rumah kaca yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia, seperti pembakaran huta dan penggunaan secara besar-bearan bahan bakar fosil.

Walaupun telah dilakukan usaha besar-besaran untuk menurunkan produksi karbon dioksida,kensentrasi di atmosfer hanya akan berkurang sedikit sekali, karena molekul karbon di oksida bertahan selama 100 tahun di udara sebelum akhirnya diambil oleh proses geokimia. Dengan demikian, kadar karbon dioksida di udara semakin meningkat sejalan dengan adanya kebakaran yang  sangat besar dan pertambahan kendaraan bermotor di seluruh dunia.

Dampak
Sebagai Negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Meskipun belum dapat dipastikan seberapa besar dampak bahayanya yang akan ditimbulkan, beberapa dampak yang diperkirakan akan sangat signifikan adalah kenaikan suhu udara, perubahan cuaca terutama peningkatan curah hujan, kenaikan permukaan laut, krisis pangan dan pengaruh pada keanekaragaman bahari.

Berdasarkan kajian yang telah dilakukan UNDP (United Nation Development Program), perubahan iklim di Indonesia juga memiliki dampak besar terhadap  rakyat miskin yang berprofesi sebagai petani dan nelayan, masyarakat yang tinggal di daerah pesisir dan pemukim perkotaan.

Perubahan pola curah hujan, kelembaban dan kesuburan tanah akibat perubahan iklim menyebabkan produktivitas menurun, bahkan banyak petanii di daerah pesisir mengalami kegagalan panen akibat banjir dan kenaikan permukaan air laut.  Perubahan cuaca menyebabkan banyak petani kesulitan menentukan waktu yang tepat untuk memulai musim tanam, atau sudah mengalamai gagal tanam karena hujan yang tidak menentu atau kemarau panjang.  Petani yang paling sengsara adalah mereka yang tinggal di wilayah dataran tinggi yang dapat mengalami kehilangan lapisan tanah akibat erosi.

Hasil tanaman pangan dataran tinggi seperti kedelai dan jagung bisa menurun 20 – 40 %. Namun, nyaris seluruh petani akan merasakan dampaknya. Berdasarkan data laboratorium Iklim IPB, selama kurun waktu 1981-1990, setiap kabupaten di Indonesia seiap tahun rata-rata mengalami penurunan produksi padi 100.000 ton; dan pada kurun waktu 1992 – 2000, jumlah penurunan ini meningkat mnenjadi 300.000 ton.

Begitupun dengan nelayan. Gelombang tinggi dan badai yang sering terjadi saat ini menyebabkan para nelayan tdak dapat berayar untuk mencari ikan. Perubahan iklim itu sendiri telah menyebabkan penurunan jumlah populasi ikan di laut, yang disebabkan kerusakan terumbu karang akibat peningkatan suhu poermukaan laut, sehingga produktivitas hasil perikanan selalu menurun. Kenaikan permukaan air laut juga dapat menggenangi tambak tambak ikan dan udang di Jawa, Aceh dan Sulawesi.

Perubahan iklim juga berpotensi member dampak negative bai mayarakat yang hidup siwilayah opesisir. Kenaikan satu meter saja dapat menenggelamkan 405.000 hektare wilayah pesisir danmenenggelamkan 2.000 pulau yang terletak dekat permukaan laut beserta kawasan terumbu karang.

Kenaikan permukaan air laut antara 8 – 30 cm juga akan berdampak parah pada kota-kota pesisir, seperti  Jakarta dan Surabaya. Gelombang tinggi, badai dan banjir rob laut menjadi ancaman bagi kota -kota tersebut.

Mitigasi dan Adaptasi

Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim menjadi suatu hal yang mutlak perlu mita lakukan untuk menghadapi perubahaniklim global. Mitigsi merupakan upaya yang dilakuan untuk mencagah , menahan, atau memperlambat gas-gas rumah kaca yang menjadi penyebab utama pemanasan global.  Sementara itu, adaptasi adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk menyesuaikan diri terhadap dampak perubahan iklim yang memang telah terjadi dan kita rasakan saat ini.

Indonesia telah berusaha melakukan upaya mitigasi dan adaptasi melalui RAN PI (Rencana Aksi Nasional Perubahan Iklim) yang ditetapkan pada 2007.  Dalam RAN PI, pemerintah memfokuskan pada tiga bidang prioritas utama, yaitu : keahanan pangan, energy dan lingkungan hidup dan pengelolaan bencana. Meskipun demikian, mitigasi saja tidaklah cukup tanpa adanya upaya  adaptasi, karena dampak perubahan iklim tetap dan akan terus kita rasakan. Oleh karena itu, adaptasi menjadi hal yang terpenting dilakukan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim global.

Pada sector pertanian,upaya adaptasi dapat dilakukan dengan  cara pemilihan varietas tanaman yang lebih kuat terhadap kondisi ekstrim, kemarau panjang, genangan air, intrusi  air laut – atau  berbagai varietas padi yang lekas matang yang cocok untuk musim hujan yang lebih pendek.

Para petani juga perlu mengupayakan cara-cara untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan bahan2 organik bagi tanah supaya lebih mampu menahan air- yaitu dengan menggunakan lebih banyak pupuk alami. Selain itu, para petani mungkin akan lebih tangguh menghadapi perubahan iklim bila mereka memiliki perkiraan cuaca yang akurat dan tahu bagaimana harus merespons perubahan itu.

Oleh karena itu, pemerintah maupun lembaga penelitian perlu melakukan riset riset untuk memberikan informasi yang paling tepat an mudah dimengerti oleh para petani.

Dari sektor perikanan, kelautan dan pesisir, kegiatan adaptasi dapat dilakukan dengan cara membuat  perlindungan – dengan cara mendirikan bangunan yang kukuh seperti tanggul dan melakukan penanaman mangrove dan  tanaman pesisir lainnya; melakukan penyesuaian – penyesuaian dapat dilakukan dengan berbagai cara.

Barangkali, misalnya, dengan membiakkan berbagai jenis ikan ke muara, wilayah mulut sungai dan laguna, serta  mengembangkan berbagai akuakulur yang baru. Masyarajat pesisir juga akan membutuhkan system penringatan  yang lebih baik untuk berbagai peristiwa cuaca eksteem disertai rencana evakuasi kedaruratan untuk relokasi, bila terjadi kedaruratan mendadak.

Adaptasi di wilayah perkotaan, banyak masalah kesehatan yang perlu diberikan perhatian khusus di wilayah perkotaan.  Untuk Jakarta misalnya, Palang Merah Indonesia menjalankan kampanye perubahan iklim dengan memperbaiki penhyimpanan air bersih dan mengurangi kerentanan terhadap demam berdarah dengan membudidayakan ikan yang memangsa larva  nyamuk.

Akhirnya, kita perlu ketahui bahwa perubahan iklim telah terjadi saat ini, meskipun beberapa masih berpendapat semua ini merupakan kejadian alami bumi. Namun, yang perlu kita sadari, dampaknya telah banyak kita rasakan dan memberikan kerugian serta mengancam kelangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lain.

Sumber: http://www.ristek.go.id/index.php/module/News+News/id/11075

 

One Response to "Perubahan Iklim dan Pengurangan Resiko Bencana"

  1. Ikha.lia Posted on 15 Januari 2014 at 16.06

    Makasih ya..
    sudah berbagi wawasan.
    yang super-super BERMANFAAT

Tinggalkan Balasan