Bagaimana Mengelola Media Campaign pada Organisasi Nirlaba?

Categories: Materi

Bagaimana Mengelola Media Campaign Pada Organisasi Nirlaba?

Ada dua bentuk umum dari kampanye melalui media, yaitu social marketing dan advokasi media. Social marketing menggunakan metode periklanan untuk mempengaruhi perilaku individual. Biasanya dibutuhkan advertising space dengan cara membeli slot baik itu di televisi, radio, ataupun print ad media cetak.  Advokasi Media melibatkan serta menumbuh kembangkan atensi media terhadap isu yang menjadi highlight dengan membangun hubungan baik kepada media, baik itu cetak maupun electronic . Advokasi Media sering digunakan untuk mempengaruhi kebijakan publik dengan mengirimkan pesan kepada para legislator menggunakan media.

Beberapa hal yang harus dilakukan dalam Media Campaign

 1.       Tentukan Target Audience

a.      Definisikan dan lakukan riset terhadap target audience anda

Contoh: Karateristik penikmat media electronic yang nantinya akan menentukan jenis program yang dipilih, misalnya dialog bebas di sebuah televisi atau radio dengan segmen tertentu. Segmentasi pembaca media cetak berdasarkan kelas dan usia misalnya. Riset ini akan menentukan jenis tulisan ataupun visualisasi yang sesuai, serta menentukan media yang menjadi sasaran kampanye.

b.      Berikut beberapa pertanyaan yang bisa Anda lontarkan untuk menentukan target audience yang tepat seperti Perilaku/ Habbit/ atau mind set seperti apa yang ingin Anda  ubah? Bagaimana karateristik dari orang-orang yang jadi target audience Anda? (usia, jenis kelamin, pendidikan, latar belakang aktivitas misalnya pekerja sosial, legislator, atau akademisi, hobinya, dan banyak bergaul dengan siapa saja?, dll). Bagaimana target audience Anda mendapatkan informasi yang up to date?. Dan siapa yang jadi tokoh panutan mereka? (Artist, tokoh Agama, orangtua, dll)

2.      Tetapkan Tujuan/ Goal dalam kampanye

Tentukan target/ goal yang Anda kehendaki dari kegiatan atau kampanye yang dilakukan Contoh: melalui kampanye media ini, lembaga saya akan dikenal oleh setidaknya 50 orang, yang bekerja di Dewan Perwakilan, dengan latar belakang pendidikan D3.

3.      Buatlah Key Message yang Menarik

Key Message utama (umbrella message) hendaknya dapat dipergunakan dalam waktu lama dan dapat memayungi seluruh program yang dijalankan oleh lembaga. Namun sebelum menentukan key message, ada baiknya menentukan tema program dalam satu tahun ke depan untuk memudahkan pembuatan pesan kunci yang mudah diingat, tertanam, dan mengena di masyarakat.

Key message, dapat diturunkan menjadi beberapa pesan asalkan masih terkoneksi dengan umbrella message. Gunakan kalimat yang mudah dipahami, singkat, dan sederhana dalam membuat key message.

4.      Tentukan Tools dan Chanel Media Yang Akan Digunakan

Inventarisir berbagai macam tools media yang Anda miliki saat ini. Misalnya brosur, leaflet, poster, internal newsletter, buku, film, dll. Selanjutnya tentukan tools yang anda ingin gunakan dalam program kampanye ke depan. Apakah tools yang saat ini dimiliki sudah cukup, atau anda membutuhkan tools lain sehingga lebih memudahkan penyampaian key message kampanye kepada masyarakat

5.      Monitor Progress Anda

Media monitoring digunakan untuk mengetahui arah kampanye lembaga anda, bagaimana media menanggapi issue yang dilemparkan. Media monitoring sekaligus berfungsi sebagai dokumentasi untuk publikasi anda.

Jalin media relation yang baik sehingga anda dapat memilah mana saja jurnalis yang bisa anda ajak untuk turut membantu kampanye anda.

Survey publik mengenai kinerja dan citra lembaga di masyarat. Bisa via web, atau menyebarkan angket. Yang terakhir Tentukan jadwal monitoring anda.

Social Marketing dan Social Campaign Dalam Konservasi Sumber Daya Alam Hayati

Social Marketing dan Social Campaign Dalam Konservasi Sumber Daya Alam Hayati

I.       Pemahaman mengenai  social marketing dan social campaign, dan konservasi.

a.    Sosial Marketing

Marketing banyak dikenal di dunia perekonomian. Ada beberapa definisi mengenai pemasaran diantaranya adalah :

a)      Menurut Philip Kottler pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.

b)      Menurut Philip Kottler dan Amstrong pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.

c)      Menurut W. Stanton pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli potensial.
Perbedaan definisi tersebut di atas disebabkan karena adanya perbedaan para ahli dalam memandang dan meninjau pemasaran. Dalam kegiatan pemasaran ini, aktivitas pertukaran merupakan hal sentral. Pertukaran merupakan kegiatan pemasaran dimana seseorang berusaha menawarkan sejumlah barang atau jasa dengan sejumlah nilai ke berbagai macam kelompok sosial untuk memenuhi kebutuhannya. Sementara definisi dari sosial merupakan semua hal yang berkenaan dengan masyarakat.

b.    Sosial Campaign

Pada prinsipnya, social marketing atau pemasaran sosial adalah strategi “menjual” gagasan untuk mengubah pemikiran, sikap dan perilaku masyarakat secara tepat dan efisien. Penerapan sosial marketing yang pernah diterapkan oleh beberapa perusahaan terbukti mampu mengubah cara berpikir masyarakat dan mampu memberdayakan organisasi di dalam memperoleh dukungan dari masyarakat baik itu dukungan dalam memperoleh sumber dana potensial yang berasal dari masyarakat secara luas atau yang lainnya.

Social marketing atau pemasaran sosial selain diterapkan pada perusahaan komersial, juga bisa diterapkan oleh organisasi non permerintah (organisasi nirlaba) dan organisasi pemerintah di dalam menjalankan program kegiatannya yang berhubungan dengan masyarakat. Prof. Dr. Emil Salim berpendapat organisasi nirlaba dan organisasi pemerintah dapat menggunakan strategi social marketing untuk mempengaruhi kelompok sasaran agar secara sukarela menerima, menolak, menanggalkan atau mengubah suatu sikap dan perilaku bagi kemajuan individu, kelompok dan keseluruhan masyarakat. Tentu saja social marketing berperan penting karena dapat menganalisa perilaku berdasarkan nilai-nilai yang berlaku, memilih kelompok sasaran dan perilaku yang perlu diubah serta “menjual” gagasan perubahan (Yenirosilawati, 2008).
Kampanye menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti suatu gerakan (tindakan) serentak (untuk melawan, mengadakan aksi). Sedangkan sosial adalah semua hal yang berkenaan dengan masyarakat. Jadi Kampanye sosial (social campaign), merupakan suatu gerakan yang dilakukan untuk mengubah perilaku sesuatu yang berkenaan dengan kelompok masyarakat agar menuju ke arah tertentu sesuai dengan gerakan yang di laksanakan oleh pembuat kampanye. Saat ini, telah banyak perusahaan swasta yang mengiklankan produknya dengan menggunakan kampanye sosial untuk dapat meraih simpati dari masyarakat sehingga masyarakat mau membeli produknya untuk dikonsumsi.

c.     Konservasi

Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam beberapa batasan, sebagai berikut :

    1. Konservasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama (American Dictionary).
    2. Konservasi adalah alokasi sumberdaya alam antar waktu (generasi) yang optimal secara sosial (Randall, 1982).
    3. Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan (IUCN, 1968).
    4. Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980). Sedangkan pengertian dari Konservasi Sumber Daya Alam menurut UU No. 5 Tahun 1990, konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Konservasi merupakan bentuk keseimbangan antara aspek perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan.

II.        Penerapan Social Marketing dan Social Campaign dalam Konservasi Sumber Daya Alam.

Ketika metode social marketing dan social campaign diterapkan di dalam ranah konservasi sumber daya alam, maka bentuknya adalah kegiatan menjual gagasan-gagasan mengenai pentingnya aspek konservasi sumber daya alam dan mempengaruhi kelompok sasaran agar secara sukarela menerima, menolak, menanggalkan atau mengubah suatu sikap dan perilaku bagi kemajuan individu, kelompok secara tepat dan efisien dengan menggunakan pendekatan sosial untuk kepentingan pemanfaatan secara berkelanjutan. Dalam aspek konservasi, penerapan social marketing dan social campaign merupakan bagian dari intervensi terhadap aspek pemanfaatan terhadap keanekaragaman hayati agar dapat dimanfaatkan secara lestari. Penerapan social campaign dan social marketing di dalam konservasi sumber daya alam merupakan bentuk penerapan konservasi berbasis masyarakat/komunitas sebagai pihak yang memanfaatkan sumber daya alam. Untuk dapat menerapkan social campaign dan social marketing tersebut, perlu unsur komunikasi yang efektif agar pesan-pesan atau gagasan-gagasan yang akan disampaikan ke masyarakat dapat diterima oleh masyarakat secara efektif dan efisien.

http://mugikurniawan.wordpress.com/2011/06/07/social-marketing-dan-social-campaign-dalam-konservasi-sumber-daya-alam-hayati/

Media Campaign

Media Campaigns

The media, that collection of opportunities for communicating with the masses, carries tremendous power. In the United States, we have seen television episodes plant seeds of change in a nation’s conscience when Maude (a popular character on aprime time show in the 1970s by that name) chose to have an abortion or when Fonzie, a streetsmart teenager, got a library card. The American public began to debate the merits of legal abortions and nearly one half million youths rushed to public libraries to get their cards.

We have also seen televised political debates sway public opinion after leading contenders falter. And we have seen powerful advertisements sell cars, toothpaste, and peanut butter. It is no wonder that environmental communicators seek to harness this powerful force aimed at informing and chang-ing public opinion.

But often this power is quite difficult to use effectively. In some cultures, people are bombarded with over 3,000 advertising messages per day. What would make an environmental message stand out among that competition? Furthermore, environmental behavior is often a series of complex actions and opportunities. Is it realistic to expect ashort message to make a significant change? Publicly broadcast communications reach the masses, but since the public usually holds a wide variety of beliefs and knowledge about any one environmental topic, it is difficult to reach the right group with relevant information. How can a message be crafted to communicate the right points to the proper audience?

This chapter will explore designing communications campaigns.

WHAT IS A COMMUNICATIONSCAMPAIGN?

Communications campaigns are varied, multifaceted, highly planned, and strategically assembled media symphonies designed to increase awareness, inform, or change behavior in target audiences. There are many forms of public media:

Paid and Public Service Advertisements

For instance, GreenCOM developed a series of six 30-second television and five radio spots on water conservation for Egyptian farmers. The spots were launched with a well-attended news conference where Ministry of Public Works and Water Resources staff expressed their pleasure with the campaign. At the same time, field engineers in the Ministry were given packets of information to support their discussions with farmers, and a press kit was distributed to reporters. Hats, posters, and a calendar for school children helped create a festive atmosphere that kept the serious subject of water conservation alive.

Making News

Many environmental organizations make effective use of “media events” to encourage news reporters to cover their stories. Greenpeace, for example, has climbed smokestacks to hang signs that draw attention to air pollution. Tired of bureaucratic delays, another group wrapped the Toronto City Hall with red tape and had reporters on hand when the first employees came to work. Less confrontational events might include a press conference, a special lecture, a government hearing, the first showing of an important documentary, or a major announcement of a scientific finding. By themselves, these events can begin to increase awareness. Launched in conjunction with brochures, programs, and other activities, they can be part of a campaign.

Entertainment and Celebrities

The entertainment industry offers highly effective opportunities. GreenCOM worked with a local television producer in the Philippines to adapt a series of daytime drama episodes where popular characters discussed issues. Many advocacy groups, from animal rights to ocean protection, use prominent actors as spokespersons for their causes in newspaper articles, paid advertising, entertainment, and public service announcements. Actress Meryl Streep’s concern about pesticides on apples was orchestrated by the Natural Resources Defense Council in a campaign called “Mothers and Others” that focused attention on pesticide residues onfood and the inane but widely shown “Naked Gun 33 1/3,” a movie about government policies for alternative energy sources, was created with support from wellrespected environmental policy groups.

A communications campaign may involve a variety of these strategies, or only one. The design of a campaign depends upon the financial resources available to create, field test, and implement the campaign, the goal of the campaign, and to a certain extent, the existing awareness and controversy associated with the issue. Some of the many possibilities for communication channels are listed in Table 11.1).

 

Media campaign 1

DEVELOPING A CAMPAIGN

When a decision has been made to use a media campaign to advance an environmental cause, it may seem natural for those closest to the situation to define the main message of the campaign. “One less car,” or “Don’t litter” may come to mind. This is a temptation that must be overcome. Premature efforts to identify the message may lead to missing the needs of the audience. Experts on the issue often know little about the audience. It is crucial to know the audience—to know what they already know about the issue, what they associate it with, how they feel about it in order to design an effec- tive message. In Egypt for example, officials of the Ministry of Public Works and Water Resource told GreenCOM that they know what messages would get farmers to conserve water. But in a pretest of only 40 people, 39 did not even understand the ministry’s message—let alone find it persuasive.

As with an educational effort or a training program (Chapter 10), the development of a communications campaign should follow a basic process that involves carefully developing a realistic goal, assessing the audience, developing a strategy that uses appropriate media, and, finally, crafting a message that pre-tests successfully with the audience (Chapters 6–8). All of these elements: the goal, the audience, the media, the strategy, and the message, interact with each other to create a successful campaign.

After the campaign is launched, it can be evaluated in several ways: by recording the exposure (number of ads in number of magazines with a circulation of so many people); by surveying people asking them to recall the message; and by observing changes in behavior or the environment that could be attributed, in part, to the campaign (see Chapter 9).

To select the most effective behaviors, it is necessary to explore what people already know, believe, and care about

Think of a communications campaign as having four stages (see Box 11.1). In the first stage formative research helps define the goals and the target audiences, as well as the “media diets” of the audiences. In the second stage, the audiences’ the campaign strategy is developed, messages are developed and pre-tested. Third, the campaign is implemented. Finally, the results are evaluated and used to further refine the strategy.

Stage 1: Goal, Audience and Medium

In the first stage, formative research helps define which behaviors the campaign will attempt to change to achieve its broad goals. To select the most effective behaviors it is necessary to explore what people already know, believe, and care about (see Chapter 6). You must understand the difference between those who already perform the desired behavior (“doers”) and those who do not (“non-doers”). Finally, formative research for acommunications campaign should explore the media “diet” of our audience. Are they literate? Do they listen to radio? If so, which station(s) and at what time(s)? Do they read any publications regularly? Do they have access to TV, Internet, or other media and do they use it regularly? This information, along with your budget, will help define the strategy and choice of media.

With the goal in mind and information about the “media diet” of the audience in hand, strategic decisions can be made about selecting markets, media, sequence, frequency, and times. These factors form the essence of the campaign. Critical information about funding and how to obtain access to a variety of media opportunities will be needed at this time. Is the effort blessed with a charismatic spokesperson? Is free radio time available? How many newspapers cover the target region and is it possible to advertise in them? Does the audience travel along a particular route frequently, making road signs an option? How often should the message be repeated to achieve your goal? Is it necessary for the campaign to generate more resources to enable you to achieve the goal? BOX 11.1 Formative Research Changes Campaign Focus in GreenCOM’s work in Egypt, the Ministry expected us to create a campaign that discussed how farmers could save water. Initial research made clear, however, that some farm-ers already used conservation techniques, andthat others did not believe water needed to be conserved. A carefully crafted initial campaign began by explaining the treaty that limits the amount of water that is available and continued by acknowledging the fine efforts that some farmers employ. A later campaign was more specific and directed toward additional conservation strategies. In this case, formative research indicated that people would not respond well to being told what to do, but first needed to hear support for the positive behaviors already in place.

Stage 2: Message

Finally, the main message of the campaign can becrafted, along with the design of all the media products comic books, posters, story booklets, radio spots, billboards, etc. A team of creative people should work with the content experts and rely upon the results of the formative research for guidance. The process often requires several revisions before everyone on the team is pleased with the type of illustrations, the flow of the storyline, the wording, the gender implications of the message, and the ultimate action.

The experts are, of course, not the audience, so every element of the campaign should be pretested with the intended audience. This can be done through focus groups, interviews, classrooms, meetings, and other existing networks. But pretesting must be done. There are many examples of media products that were distributed broadly before the organizers realized they were not communicating the desired message. For example, Chevrolet neglected to pre-test the name of its compact car in Latin America, only to learn after public embarrassment that Nova, or “no va” means “no go” in Spanish. Translation errors are frequent, even for major advertising firms. Make sure local people, not just experts, are in the pre-test audience. Pre-testing is one of the most important ways to prevent spending money and effort in the wrong direction.

Stage 3: Implementing The Campaign

Implementing a campaign is never easy, but if stages one and two have been done well, implementation should go smoothly.

Stage 4: Monitoring and Evaluation

Evaluation should begin during implementation and be used to make mid-course corrections (see Chapter 9).

THEORETICAL MODELS UNDERLYING CAMPAIGN STRATEGIES

For centuries, educators have assumed that if they provide students with information, that information will lead to new attitudes. They have also assumed that these new attitudes will then lead to new behavior (see Figure 11.1). However, 20th century research shows, what many parents already knew that the linkages between informa- tion and attitudes and, even more importantly, between attitudes and behavior are not strong.

This age-old educator’s model is not really very effective at changing behaviors. The biggest gap in human nature is between what we know and what we do!

Media campaign 2

 

When the advertising industry was born in the early 1900s, if found the educator’s model useless in selling products, especially in getting consumers to select their product over similar products. They created a different, effective model that spawned amulti-billion dollar industry (see Figure 11.2).

Media campaign 3

 

The advertiser’s model clearly works. However it contains an element that can be unappealing to environmental communicators. Ads usually start with an “attention grabber” that we may think of as an “irrelevant motivator.” (The advertising industry does not use this term.) An irrelevant motivator is something that motivates the consumer to buy the product, but it is not related to the product. This motivator is connected to a“need state” of the potential customer. Some universal human need states are for status, sexual attractiveness, or being a good parent. The advertiser suggests that buying this product (changing your behavior) will fill this need. The examples below demonstrate this model:

  1. Automobile manufacturers try to connect the purchase of a specific automobile with status, power, or attractiveness to members of the opposite sex.
  2. Toothpaste manufacturers and breath mint makers suggest that the person of our dreams will suddenly show interest in us if we use  their product.
  3. Cigarette producers try to convince us that their brand will make us “cool,” manly, and worldly.

As powerful as these appeals to human needs states are, a single exposure to an advertisement rarely has much impact on the consumer. Even after they buy the product, consumers may begin to question the link between the product and the need state since in reality of course, there is no link. The new car did not make us rich and powerful. Brushing with Crest or Pepsodent did not get us a date. Lifesavers or Certs did not save our social life. Social researchers call this state “cognitive dissonance.” The consumer is performing a behavior (buying Crest) for a reason that he/she intellectu- ally knows to be untrue (It will help me get a date). This is an uncomfortable state that most humans will seek to resolve so that their actions are in line with their beliefs and knowledge.

Why not just provide the information in the first place? Because the audience wasn’t interested in it then. Now they are.

One way to resolve the situation is to keep listening to the original message for reassurance that you are doing the right thing. Thus advertisers typically repeat their message endlessly not only to attract new customers, but also to reassure current customers. This repetition creates a direct relationship in our minds between the product and the fulfillment of our needs. In fact most advertising is aimed at customers who have already made the decision to buy the product and is intended to reinforce that decision.

An Environmental Communications Model Dr. Peter Sandman, a noted environmental communicator, developed a third model in the 1970s that combines the educational and advertising models (see Figure 11.3). Sandman’s model follows the advertiser’s model except that almost all environmental messages can use a relevant motivator that addresses a need state to get people to perform an initial small behavior. Performing this behavior still induces some cognitive dissonance, as it does in the advertising model. For example, those of us who have circulated petitions know that it is better to ask people to sign quickly and then listen to the good reasons for supporting the cause. Once someone signs his or her name to a statement, he/she starts to question “Should I have done this? How will my name be used? Who is really behind this? Did I read it carefully enough?” Another example: children often nag their parents into doing something such as recycling that they learned about at school. At first the parent responds to please the child, but later will ask “Why am I really doing this? Is it really worthwhile?”.

Media campaign 4

Here the Sandman model departs from the advertiser’s model. Environmental communicators have something that most advertisers don’t—good reasons to continue the behavior that can replace the initial irrelevant reasons. Rather than endlessly repeating the motivational message, environmental communicators can now switch to the real reasons for the behavior by providing information. Why not just provide the information in the first place? Because the audience wasn’t interested in it then. Now they are. They are interested in finding information that will support their new behavior. In fact, they are seeking it in order to resolve the uncomfortable cognitive dissonance they feel at performing a behavior for a not-very-good reason.

Sandman cites research done at the Ann Arbor, Michigan recycling station (in the days before curbside recycling) to explain how this works. Recyclers had to separate their trash and then drop the recy- clables off at a recycling station in town a considerable investment of time. At the station, Recyclers were interviewed about what made them come and how much they knew about recycling. New Recyclers didn’t know much and were there for basically irrelevant reasons (e.g., their child nagged them to do it, they wanted neighbors to think well of them in this progressive community, they wanted to meet people like themselves). Long-term Recyclers however, could tell interviewers how many trees were saved by a month’s worth of newspapers and how much energy was conserved by recycling glass bottles. They had replaced the irrelevant motivators with relevant reasons to continue the behavior. The Recyclers who did not make this transition to finding good reasons, stopped recycling. The original motivator was not enough to sustain the behavior of recycling. Thus information, delivered at the correct time and in a targeted manner, is crucial to maintaining environmentally friendly behaviors. The best place for Recyclers to get this information would be at the recycling station itself.

This research suggests that creating and maintaining recycling behavior requires two messages to two audiences. The first message contains an irrelevant motivator (or partially relevant) and is aimed at the Ann Arbor population. It might be something like “You meet the nicest people at the Ann Arbor Recycling Station” or show a child reminding a parent, “But Mom, You could recycle that!” The goal of the message is to get people to the recy cling station once.

The second message is designed to reinforce the behavior of people who have made the trip to the recycling station. It contains the reasons why they are doing a good thing and builds on the behavioral commitment.

A national recycling campaign in the United States used Sandman’s model. First, it encouraged people to call a toll-free number. The initial advertisements ended with the tagline, “If you are not recycling, you are throwing it all away,”and an image of a crumpled Earth tossed into a waste bin. The message appeals to Americans’ positive attitudes  toward the environment and their ethic about not wasting things. The 200,000 people who called received additional information about why recycling was important, where they could take recyclable materials, how to package them, and how to a start recycling program by finding local markets. The campaign didn’t spend its own resources putting this detailed information out to people who weren’t paying attention. The first ad got their attention (based on an emotional motivator) and convinced them to take a simple action. As a result of that action they were given factual information that would support a longer-term behavior change.

Positive attitudes support long-term behavior (see Figure 11.1). Information alone is not enough to support behavior, but information can lead to a change in attitude that can lead to behavior just as educators have told us it would. But, without a motivator and an initial action to create cognitive dissonance and start the information seeking process, there is nothing to trigger the uptake of the information.

By combining the models of advertisers and educators, environmental communicators can have a bigger impact.

http://www.psandman.com/articles/chap11.pdf

Strategi Untuk Kampanye Efektif Social Media Marketing

Strategi untuk Kampanye Efektif Social Media Marketing

Sosial media adalah alat yang hebat untuk sebuah perusahaan, tetapi hanya jika digunakan dengan cara yang benar. Sosial media menempatkan pesan Anda ke tangan potensi pelanggan, mereka dapat memposting review buruk, sampah produk Anda, dan menyarankan teman-teman mereka untuk tidak pernah datang ke pendirian Anda. Pelanggan potensial bisa daftar apa yang mereka suka tentang perusahaan Anda dan apa yang bisa menggunakan beberapa desain ulang. Mereka juga dapat memberikan pujian yang mengakibatkan Anda penjualan dan keuntungan meningkat secara eksponensial. Cukup sederhana, yang merupakan sejumlah besar daya untuk menempatkan di tangan konsumen menggunakannya dengan bijak.

Ada tiga komponen utama yang Anda harus diingat.

  1. Hubungan Banyak perusahaan membuat kesalahan dengan mencoba untuk menggunakan media sosial sebagai platform untuk pitches penjualan. Jika Anda melakukan ini, paling-paling Anda akan diabaikan, pada buruk, dibuang untuk mencoba taktik murah untuk membuat penjualan. Either way, Anda membuang-buang alat yang hebat untuk perusahaan Anda. Sebaliknya, fokus pada membuat koneksi dengan orang-orang dan mengembangkan hubungan profesional.

Ketika Anda mengirim acknowledgment, seperti konsultan sebuah posting “Selamat untuk Acme Perusahaan untuk mendapatkan proyek ABC” atau sebuah restoran posting tentang acara itu adalah hosting, Anda mempromosikan produk Anda atau layanan sementara membuat koneksi pribadi. Mereka jenis posting menarik dalam pikiran pertanyaan kepada pembaca, seperti “Bagaimana Acme Perusahaan mendapatkan proyek ABC?” Jawabannya adalah, tentu saja, melalui karya konsultan. Dengan cara yang sama, mengapa acara yang diselenggarakan oleh restoran? Mungkin itu hadiah menang dalam promo bulanan atau bisa juga karena restoran memiliki penari perut Jumat pertama setiap bulan. Dengan cara ini, bisnis Anda dipromosikan subliminal sementara hubungan dibangun dengan klien Anda.

Selain itu, contoh-contoh ini menunjukkan bagaimana seorang profesional postingan akan membaca. Anda ingin menumbuhkan dan mempertahankan hubungan profesional dengan pelanggan Anda, bukan satu sosial. Lebih sering daripada tidak, mereka tidak peduli tentang kehidupan pribadi Anda ingat itu.

  1. Eksposur Setelah kehadiran aktif dalam pemasaran sosial media juga mampu eksposur perusahaan Anda. Jika perusahaan Anda terlibat dalam pemasaran media sosial, itu membuat lebih mudah bagi seseorang untuk mengirim komentar. Sementara orang dapat melakukan ini dengan atau tanpa Bisnis Anda memiliki keberadaan internet, jika Anda terlibat dalam pemasaran media sosial, Anda dapat membalas komentar, memulai percakapan, atau mengembangkan sebuah jajak pendapat untuk masalah ini.
  2. Media sosial lokal Terakhir, untuk perusahaan Anda harus memiliki unsur lokal. Anda dapat menghubungkan dan membangun hubungan profesional dengan perusahaan lain di daerah Anda, baik itu produk gratis / jasa, perusahaan dengan demografis yang sama, atau bisnis dengan penawaran yang sama. Koneksi yang Anda buat dapat berfungsi untuk membuat jaringan mikro dengan perusahaan lain. Tidak hanya akan berfungsi untuk meningkatkan kesadaran perusahaan Anda, tetapi juga dapat menyebabkan peristiwa promosi dan peluang saling menguntungkan lainnya.

Lebih sering daripada tidak, media sosial adalah gratis untuk individu dan perusahaan untuk digunakan. Hal ini dapat tergoda untuk membaca apa pun artikel tentang bagaimana Twitter disimpan ini perusahaan atau Facebook direvitalisasi bahwa perusahaan. Anda mungkin sangat terinspirasi bahwa Anda memulai sebuah akun Twitter atau halaman Facebook untuk perusahaan Anda dan mulai posting dan mempromosikan bisnis anda segera, tapi pikirkan lagi. sosial media pemasaran bagi perusahaan adalah tahun cahaya jauhnya dari cara Anda menggunakan account sosial Anda. Jika Anda mencoba untuk pendekatan pemasaran media sosial seperti yang Anda lakukan teman-teman Anda, Anda mungkin akan berhasil. Selanjutnya, jika Anda mencoba untuk membuat media sosial ke dalam sebuah kendaraan penjualan, itu hanya akan tidak bekerja. Ingat, bila Anda menggunakan media sosial, Anda menempatkan banyak kekuasaan di pelanggan potensial Anda, sedangkan hasilnya bisa menjadi besar, sehingga dapat kegagalan. Untuk memastikan hal ini tidak terjadi pada bisnis Anda, pastikan bahwa Anda menggunakan pemasaran sosial media dengan benar.

Sumber: http://id.prmob.net/facebook/media-sosial/twitter-1499008.html

Strategi Kampanye (Persuasi) Melalui Kekuatan Media Massa

Strategi Kampanye (Persuasi) Melalui Kekuatan Media Massa

Abstract.

The mass media is becoming the source of the news media and entertainment, as well as bringing the message of persuasion. This world with all its contents and the event could not escape the terms of the mass media; and vice versa, the mass media can not escape the world with all its contents and the event. Related to the news source that brings a message of persuasion, the persuasion campaign through the mass media is very important and has great influence in this success. That’s why the success of this campaign of persuasion through the mass media divided by the print media, electronic media and internet media. , Frequent exposure or publication, duration, sentence persuasion, empathy and the tag line that will continuously reinforce forming its own opinion would be a political party or presidential candidate in person, this has resulted in people interested in and switch on a political party or particular candidate. This transition is a success of a campaign of persuasion through the mass media.

1.      Pendahuluan.

Media massa merupakan media yang mejadi sumber berita dan hiburan, serta membawa pesan persuasi. Dunia ini dengan segala isi dan peristiwanya tidak bisa melepaskan diri dari kaitannya dengan media massa; demikian juga sebaliknya, media massa tidak bisa melepaskan diri dari dunia dengan segala isi dan peristiwanya. Hal ini disebabkan karena hubungan antara keduanya sangatlah erat sehingga menjadi saling bergantung dan saling membutuhkan. Segala isi dan peristiwa yang ada di dunia menjadi sumber informasi bagi media massa. Selanjutnya, media massa mempunyai tugas dan kewajiban selain menjadi sarana dan prasarana komunikasi – untuk mengakomodasi segala jenis isi dunia dan peristiwa-peristiwa di dunia ini melalui pemberitaan atau publikasinya dalam aneka wujud (berita, artikel, laporan penelitian, dan lain sebagainya) – dari yang kurang menarik sampai yang sangat menarik, dari yang tidak menyenangkan sampai yang sangat menyenangkan tanpa ada batasan kurun waktu. William L. Rivers dan kawan-kawannya (Rivers 2003:ix) mengatakan bahwa pada dasarnya, kondisi di dunia nyata mempengaruhi media massa, dan ternyata keberadaan media massa juga dapat mempengaruhi kondisi nyata dunia. Dengan kata lain, dunia mempunyai peranan dan kekuatan untuk mempengaruhi media massa; dan sebaliknya, media massa juga mempunyai peranan dan kekuatan yang begitu besar terhadap dan bagi dunia ini, terlebih dalam segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia dengan segala aspek yang melingkupinya. Oleh karenanya, dalam komunikasi melalui media massa, media massa dan manusia mempunyai hubungan saling ketergantungan dan saling membutuhkan karena masing-masing saling mempunyai kepentingan, masing-masing saling memerlukan.

Media massa membutuhkan berita dan informasi untuk publikasinya baik untuk kepentingan media itu sendiri maupun untuk kepentingan orang atau institusi lainnya; di lain pihak, manusia membutuhkan adanya pemberitaan, publikasi untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

Indonesia pun tidak bisa melepaskan dirinya dari kaitannya dengan media massa karena hubungan saling ketergantungan dan saling membutuhkan atau saling memerlukan. Di satu sisi media massa membutuhkan, memerlukan berita dan informasi tentang kejadian-kejadian yang terjadi di Indonesia, baik yang berkait secara langsung maupun tidak langsung agar fungsi dan peranan media massa bisa berjalan sesuai dengan yang seharusnya; di sisi lainnya, negara Indonesi memerlukan atau membutuhkan media massa agar dapat mempublikasikan atau memberitakan baik untuk keperluan sekedar publikasi informasi dan berita maupun untuk tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan khusus dalam bidang politik, ekonomi, sosial, atau lainnya. Begitupun dengan dunia politik Indonesia, dimana tidak bisa melepaskan diri dari keberadaan media massa yang ada. Publikasi lewat media massa baik cetak maupun elektronik tentang hal-hal yang berkait dengan kepentingan-kepentingan politik menjadi sebuah strategi yang ampuh dalam mempublikasikan kepentingan kepentingan politik tersebut.

Dalam tulisan ini saya akan membahas tentang Strategi Kampanye (Persuasi)   Melalui Kekuatan  Media Massa di Indonesia.  Kampanye politik dalam media massa baik cetak maupun elektronik yang dalam konteks ini meliputi surat kabar, televisi, dan websites. Kekuatan persuasive dengan pencitraan dalam kampanye  politik secara terus menerus akan mempengaruhi pandangan masyarakat. Kekuatan ini bukan hanya mempunyai peranan melainkan juga mempunyai kekuatan dalam pelaksanaan kampanye (persuasive). Media massa merupakan sarana persuasi yang efektif dan efisien bagi partai partai politik dalam berkampanye karena bisa menjangkau banyak pemilih yang menjadi target mereka dengan waktu yang cepat dan biaya yang relatif murah. Steven H. Chaffee dan Michael J. Petrick (1975:135) menyatakan bahwa ‘the mass political persuader’ mencoba menggunakan media untuk mendapatkan keuntungan maksimal.

2.      Pembahasan.

Media massa merupakan sarana persuasi yang efektif dan efisien bagi partai politik untuk berkampanye, hal ini disebabkan  karena media massa bisa menjangkau banyak pemilih yang menjadi target dengan waktu yang cepat dan beaya yang relatif murah. Adalah tidak mungkin, khususnya dari sisi waktu, bagi tim sukses kampanye partai politik untuk mendatangi target pemilih mereka secara langsung atau ‘door to door’. Penggunaan media massa adalah cara yang sangat memungkinkan untuk ‘bertemu langsung’ dengan target pemilih melalui representasi media massa baik cetak maupun elektronik bagi para tim pelaksana kampanye. Mereka bisa menggunakan berbagai cara yang bisa dipublikasikan melalui media cetak maupun elektronik, bahkan mereka juga bisa berkomunikasi secara langsung melalui program ‘live show’ televisi maupun siaran radio; juga mereka bisa mengumpulkan pendapat, saran, komentar ataupun kritik, mengadakan ‘polling’ atau jajak pendapat melalui media massa cetak maupun elektronik. Berbagai macam cara bisa mereka ciptakandan mereka untuk berkomunikasi dalam usaha memikat calon pemilih.

Contohnya  peluang ini ditangkap oleh Partai Nasional Demokrat dengan berkampanye melalui iklan. Seringnya pemutaran, Durasi, kalimat yang persuasive, bentuk empati dan tag line yang meneguhkan menjadikan secara tidak langsung partai baru yakni Nasional Demokrat menjadi pusat perhatian dan kedepannya bisa mempengaruhi public, yang pada akhirnya sesuai tujuannya yakni mengikat hati hingga pada loyalitas masyarakat,untuk mendukunggnya. Bahkan yang sudah menjadi market dari partai lain dapat berpaling dan memihak partai Nasional Demokrat hal ini disebabkan pengaruh media massa yang secara terus menerus mempublikasikan partai Pasional Demokrat. Kekuatan iklan partai Nasional Democrat dapat sebagai strategi persuasi dapat kita lihat melalui media massa cetak, elektronik (Televisi) serta internet.

2.1 Kekuatan Media Massa Cetak.

Media massa cetak yang dalam konteks ini dibatasi dalam bentuk surat kabar dan  majalah, merupakan sarana komunikasi dan persuasi bagi para praktisi politik, para partisan politik, dan para pemerhati politik. Sebagai sarana komunikasi, media massa cetak tersebut dimanfaatkan untuk mensosialisasikan visi dan misi dari partai politik, kandidat presiden, dimana memberikan informasi selengkap dan semenarik mungkin berkait dengan program-program jangka panjang dan pendek sebagai perwujudan pelaksanaan visi dan misi partai politik dan  para kandidat, memberikan liputan dalam kolom reguler maupun kolom khusus berkait dengan kampanye mereka, menyampaikan biografi dan karya-karya para kandidat berikut rencana kerja mereka. Informasi-informasi tersebut dikemas sedemikian rupa dalam aneka bentuk publikasi – liputan berita, sehingga menjadi berguna dan menarik bagi para calon pemilih. Kemasan publikasi dalam media massa cetak seperti ini – baik dalam surat kabar harian maupun dalam majalah mingguan atau dwi-mingguan ataupun bulanan – dimaksudkan sebagai sarana persuasi agar para calon pemilih tertarik, terpikat kepada calon presiden yang disosialisasikan dan dipopularitaskan dalam kampanye tersebut.

Media massa cetak tersebut bisa menarik karena sifatnya yang lama dalam pengertian bahwa informasi yang dipublikasikan tersebut bisa disimpan tanpa harus melakukan ‘recording’ sebagaimana dalam media massa siaran; dan kemudian informasi tersebut bisa mudah didapatkan kembali sewaktu-waktu diperlukan. Dengan demikian media massa cetak bukan merupakan media komunikasi, informasi, dan persuasi yang lewat begitu saja sebagaimana yang terjadi dalam media massa siaran baik radio maupun televisi. Di sinilah letak kekuatan media massa cetak.

Selain karena hal tersebut di atas, informasi media massa cetak juga mempunyai kekuatan bagi kalangan tertentu, khususnya bagi golongan berpendidikan. Informasi ataupun data dalam bentuk cetak sangat digemari oleh kalangan sebagaimana tersebut di atas. Mereka membutuhkan informasi dan data dalam bentuk cetakan karena jenis ini pada umumnya merupakan hasil suatu observasi dan analisis yang cukup mendalam dan representatif yang bisa menjadi acuan bagi mereka baik untuk kepentingan mereka sendiri maupun untuk kepentingan lainnya. Hal ini diperkuat oleh pendapat Kenneth Janda dan kawan-kawan (1987:337) yang menyatakan bahwa “Although more people today depend on television than on newspaper for news, those with more education rely more on newspapers. Newspapers usually do a more thorough job of informing the public about politics.” Pendapat senada juga disampaikan oleh William L. Rivers dan kawan-kawan (2003:307) bahwa secara umum, berdasarkan kesimpulan dari berbagai studi, orang berpendidikan tinggi lebih menyukai media cetak atau media bacaan dibandingkan dengan media siaran; sedangkan mereka yang berpendidikan menengah lebih menyukai televisi.

2.2 Kekuatan Media Siaran (Televisi).

Dewasa ini televisi memang merupakan media massa yang paling komunikatif dan paling digemari oleh kedua belah pihak (para politisi, parpol dan para pemilik hak pilih) karena televisi mempunyai sifat yang berbeda dari media massa lainnya, yaitu bahwa televisi merupakan perpaduan audio-visual sehingga dengan demikian televisi memberikan kesan sebagai penyampai isi atau pesan seolah-olah secara langsung antara komunikator (pembawa acara atau pengisi acara) dengan komunikan (pemirsa). Informasi yang disampaikan melalui televisi mudah dimengerti karena secara bersamaan bisa didengar dan dilihat.

Frank Allen Philpot dari Universitas Stanford (Rivers 2003:226) menyatakan bahwa liputan televisi lebih disukai para politisi karena liputan itu nampak lebih nyata dan akrab daripada foto atau kutipan pembicaraan mereka yang dipublikasikan lewat surat kabar, apalagi televisi bisa melakukan siaran langsung sehingga lebih dipercaya karena tidak dapat diedit seperti halnya media massa cetak. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Darlisa Crawford (2004:1) yang menyatakan bahwa di antara media massa yang ada, televisi merupakan ‘the most important provider of election media coverage’.

Bentuk penayangan iklan politik dipilih sebagai salah satu bentuk siaran televisi dalam rangka mensukseskan pelaksanaan kampanye partai politik atau pun pemilihan presiden. Dari penayangan jenis ini pemirsa bisa mendapatkan informasi berkait dengan visi-misi dan program kerja yang dijanjikan; selain itu, pemirsa juga disodori penayangan figure partai politik atau kandidat presiden yang sengaja ditonjolkan supaya mempunyai ‘nilai jual’, artinya supaya bisa memikat calon pemilih. Para kandidat presiden atau partai politik dijadikan ikon-ikon baru (bisa juga disebut sebagai aktor-aktor baru) yang sengaja ditonjolkan dalam penayangan tersebut. Semua bentuk aneka penayangan iklan politik, pada prinsipnya, merupakan suatu alat yang dipakai untuk mempengaruhi publik, khususnya pemilik hak pilih, supaya memilih kandidat presiden yang ditayangkan atau memperkuat dan memperteguh pendirian calon pemilih yang sudah menentukan pilihan mereka.

Oleh karena itu, diperlukan cara-cara penayangan yang sedemikian rupa sehingga mampu memberi kesan positip bagi pemirsa dan selanjutnya mampu mengoptimalkan ikatan emosional para calon pemilih baik yang belum menentukan pilihan maupun yang sudah menentukan pilihan.

Menurut Yusuf Maulana (2004:5), pengelolaan kesan merupakan bagian terpenting dalam komunikasi politik. Visualisasi tubuh dan artikulasi verbal dari para kandidat maupun tim sukses atau para aktor dan narrator dalam penayangan tersebut merupakan bagian dari fungsi bahasa yang harus diperhatikan sehingga dengan demikian penayangan itu merupakan hasil dari pengolahan citra melalui bahasa, yang menurut istilah Ben Anderson gejala ini disebut ‘penopengan’ yang mereduksi, bahkan mendistorsi pesan yang seharusnya tampil sebagaimana adanya. Dalam kampanye, tentunya, kesan atau citra yang ingin diperoleh adalah yang positip-persuasif yang kemudian mampu mendapatkan perhatian dari para pemirsa, yang akhirnya mampu mengubah persepsi atau memperteguh persepsi untuk memilih kandidat presiden yang dikehendaki dalam penayangan tersebut.

2.3  Kekuatan Media Internet.

Selain media massa, kini para praktisi maupun partisan politik juga menggunakan media internet dalam websites sebagai sarana komunikasi, informasi, dan persuasi berkaitan dengan pemilihan informasi dalam arti luas (tulisan, audio-visual) berkaitan dengan partai politik ataupun kandidat presiden. Situs-situs tersebut memberikan informasi lengkap dan persuasif karena situs-situs tersebut merupakan tampilan gabungan dari media cetak dan media audio-visual. Situs-situs bisa menampilkan seperti apa yang dipublikasikan oleh media massa cetak sekaligus juga bisa menampilkan sebagaimana yang disiarkankan oleh televisi.

Kekuatan media internet dikarenakan jangkauan yang luas. Hal ini dikarenakan internet dapat diakses oleh siapa saja dan diamanapun ia berada. Kemudahan lainnya  dapat diakses kapan saja, lebih mudah atau lebih cepat dalam dalam mencari informasi, hal ini dikarenakan datanya tersimpan dan tersusun secara rapi.Kemudahan-kemudahan inilah yang secara tidak langsung membentuk opini tentang sebuah partai politik atau kandidat presiden., karena data yang ada dan selalu dipublikasikan secra rutin.

3.      Kesimpulan.

Dari paparan analisis tersebut di atas, dapatlah disimpulkan bahwa media massa baik cetak, media massa siaran (elektronik) maupun media massa internet mempunyai peranan dan kekuatan yang sangat besar dalam kaitannya dengan usaha mencapai keberhasilan pelaksanaan kampanye. Pihak para kandidat presiden ataupun partai politik dan tim sukses mereka bisa memaksimalkan komunikasi mereka dengan calon pemilih melalui media massa: surat kabar,  televisi, dan internet. Pihak calon pemilih memperoleh kesempatan maksimal untuk mendapatkan informasi para kandidat yang akan dipakai dalam menentukan pilihan mereka. Selain hal tersebut, kekuatan media massa dalam pelaksanaan kampanye juga terletak pada berbagai macam variasi tampilan dalam aneka bentuk dan cara sehingga mampu mengakomodasi beraneka macam selera dari kedua belah pihak: para kandidat atau partai politik dan tim mereka dengan para calon pemilih. Keberanekaragaman tampilan dalam media massa itu bukan hanya mampu merepresentasikan aneka selera kedua belah pihak melainkan juga melengkapi pelaksanaan kampanye secara langsung yang diadakan, yang pada akhirnya mampu menjangkau semua lapisan masyarakat, khususnya calon pemilih presiden diseluruh Indonesia.

Selain itu, Seringnya penayangan atau publikasi, Durasi, kalimat yang persuasi, empati dan tag line yang meneguhkan secara terus menerus akan membentuk opini tersendiri akan partai politik atau kandidat presiden secara langsung, hal ini mengakibatkan orang tertarik dan beralih pada partai politik atau kandidat presiden tertentu.

Sumber: http://meinardus-ismyname.blogspot.com/2012/05/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

 

Tinggalkan Balasan