16 November 2012, Kelas Berbagi #7: Bagaimana Memahami Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana?

Categories: Liputan

Melihat dari judul kita kali ini yaitu Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana seolah-olah dua issue yang terpisah, padahal keduanya sangat erat kaitannya hanya saja memiliki dominasi yang berbeda dalam sisi implementasi. Demikian disampaikan oleh Sofyan dalam diskusi terbatas mengenai Bagaimana Memahami Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana pada rangkaian kelas berbagi #7 (16/11). Sofyan adalah salah satu dari ratusan penggiat PRB di Indonesia. Karirnya dimulai ketika dirinya aktif pada sebuah perkumpulan KAPPALA INDONESIA dan menjadi Community Organizing  di komunitas gunung merapi Jogjakarta. Saat ini Sofyan aktif di Mercy Corps.

Menurut Undang-undang No 24 tahun 2007 Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Dalam kelas berbagi ini peserta yang hadir terdiri dari Erry Haryadi (KMPLHK RANITA), Aribowo Nugraha (Karina KWI Caritas Indonesia), Wahyu Rudito (Penabulu), Herman Simanjuntak ( Penabulu), dan Wildasari Hoste (Penabulu).

Pada pengantar diskusi, Sofyan menjelaskan Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerentanan yang tinggi terhadap bencana. Kerentanan akan menjadi risiko jika tidak dilakukan upaya pengurangan risiko bencana, baik melalui peredaman ancaman, pengurangan kerentanan maupun peningkatan kapasitas. Jumlah bencana yang tinggi menunjukan penanganannya yang buruk, sistem kelola risiko bencana masih belum maksimal dilakukan. Belum lagi jika dilihat dari sisi anggaran negara untuk PB. Sekalipun kebijakan PB di design dengan pendekatan PRB, namun dalam kenyataannya masih dengan pendekatan responsif.

Selanjutnya, Sofyan mulai menggambarkan secara detail tentang konsepsi bencana tersebut. Pertama (1), Bahaya/ancaman bencana menurut UU 24/2007 TENTANG PB Pasal 1 yaitu  suatu kejadian atau peristiwa yang bisa menimbulkan bencana.

Poin kedua (2), Kerentanan adalah sekumpulan kondisi yang mengarah dan menimbulkan konsekuensi (jiwa, fisik/infrastuktur, sosial – budaya, ekonomi dan lingkungan) yang berpengaruh buruk terhadap upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan bencana. Misalnya : rendahnya pengetahuan dan kemampuan komunitas terhadap upaya Penanganan Bencana, infrastruktur yang tidak di design menghadapi ancaman bencana, relasi gender yang tidak seimbang, miskin, wilayah rawan bencana atau lingkungan yang rusak/tercemar.

Poin ketiga (3), Kapasitas yaitu Kesiapsiagaan terhadap ancaman bencana, Peran serta, masyarakat dalam Penanggulangan bencana, serta Kebijakan dan Kelembagaan dalam Penanggulangan bencana.

Sofyan juga menjelaskan tentang Rumus Bencana yaitu

Risiko=Bahaya/Ancaman x Kerentana : Kapasitas

Bisa dibaca risiko bencana meningkat karena perubahan iklim mempengaruhi; peningkatan bahaya dan  kerentanan serta penurunan kapasitas.

Sebagai penutup, Sofyan memberikan quote yang berbunyi:

Jumlah bencana yang tinggi menunjukan penanganannya yang buruk, sistem kelola risiko bencana masih belum maksimal dilakukan

Baca Juga:

Lihat Juga:

 

Tinggalkan Balasan